Lombok Barat, DS-Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mulai Mei 2026, Dinas Pertanian mengantisipasinya dengan melakukan pemetaan wilayah-wilayah yang biasanya mengalami kekeringan atau kesulitan mendapatkan air irigasi.
Wilayah pertanian yang biasanya berhadapan dengan kekurangan air yakni di Kecamatan Kuripan seperti di Desa Giri Sasak, Banyuurip, Giri Tembesi, Kecamatan Lembar seperti Desa Mareje dam sejumlah wilayah Sekotong.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat (Lobar), Lalu Moh. Hakam, menyatakan, di tengah kondisi iklim atau perubahan bisa menyebabkan terjadi kekeringan. Tentu saja kekeringan berdampak pada hasil produksi petani karena terjadinya gagal panen. Karena itu Pemkab Lombok Barat tetap menyiapkan berbagai langkah strategi.
Sehubungan dengan itu Pemkab Lobar juga meminta para petani untuk melakukan penyesuaian pola tanam bagi petani, petani yang melakukan usaha taninya di luar kawasan irigasi teknis. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi ancaman kekurangan air serta meningkatnya risiko serangan hama tanaman.
“Pada lahan sawah yang terlayani irigasi teknis relatif masih aman. Hanya saja untuk lahan pertanian dengan tadah hujan pun area pertanian yang tidak bisa dijangkau irigasi utama tentu menjadi hambatan,” ujarnya Sabtu (9/5/2026) lalu.
Ia menilai petani harus sering diberikan sosialisasi atau edukasi terhadap penerapan pola tanam yang baik, bagi keberlangsungan usaha tani. Menanam satu jenis komoditi pertanian saja berakibat tidak baik bagi lahan pertanian. Hal ini menimbulkan terjadinya kejenuhann tanah yang dapat merusak tanah dan mudah terserang hama, jika komoditi pertanian ditanam secara tidak bergantian.
Pola tanam dengan menanam tanaman lainnya selain padi seperti palawija dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Ia yang pernah Kadispora Lombok Barat ini juga menyatakan, pentingnya pemahaman petani menerapkan diversifikasi budidaya tanaman yang merupakan cara menerapkan tanaman lebih dari satu jenis tanaman di area yang sama. Diantaranya, jagung, tanaman sayur-mayur yang bermanfaat besar meningkatkan pendapatan bagi petani kecil dengan memanfaatkan berbagai sumber pendapatan dari jenis tanaman yang berbeda.
Menurut dia, diversifikasi juga membantu menahan fluktuasi harga komoditas, sehingga petani tidak terlalu tergantung pada satu produk saja. Dari segi lingkungan, diversifikasi efektif menekan serangan hama, penyakit, dan gulma karena adanya variasi tanaman yang membuat ekosistem lebih seimbang. Praktik ini juga berperan penting dalam memperbaiki kualitas tanah, menjadikannya lebih subur dan mendukung keberlanjutan pertanian untuk jangka panjang.
Jadi diversifikasi tanaman ini juga menjadi langkah strategis untuk memutus siklus hama yang semakin adaptif terhadap tanaman sejenis. Ini penting untuk mengantisipasi kekurangan debit air sekaligus memutus siklus hama. Tanam tiga atau empat kali setahun dengan varietas sejenis tentu akanmenyebabkan hama jadi lebih cepat beradaptasi dan berkembang. (adi).














