Ada ilustrasi yang digambarkan Forum Anak Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, dalam menggapai mimpi-mimpi mereka. Ilustrasi itu berupa sebuah gambar Pohon Harapan. Pohon dengan beberapa ranting yang tumbuh segar membawa bunga-bunga harapan anak-anak di Senaru.
Apapun harapan anak-anak terpajang di Pohon Harapan. Mereka menuliskan beberapa cita-cita terkait hak diri mereka sendiri sesuai dengan hak-hak yang paling mendesak. Misalnya harapan mendapat perlindungan, menyalurkan ekspresi dan berpartisipasi di desa. Harapan itu tidak sekadar dipajang, melainkan sebelumnya ditelusuri potensinya agar dapat diwujudkan di desa itu.
Memelihara pohon harapan memerlukan kebersamaan untuk menjaganya. Tidak boleh ada yang mengganggu. Karena itu, dibangun sistem untuk melindungi Pohon Harapan agar tidak digerogoti tangan-tangan jahat. Itulah sebabnya, pihak desa pun terlibat agar harapan yang menjadi cita-cita anak-anak Desa Senaru tercapai.
Forum Anak Desa Senaru memiliki tempat khusus untuk mereka berkumpul mendiskusikan segala hal, menambah literasi maupun berkreasi dalam bidang seni.
Tempat berupa bangunan tradisional itu merupakan sumbangan dari seorang wisatawan yang kerap berkunjung ke Senaru. Bahan bakunya dari kayu. Beberapa rak dilengkapi dengan buku-buku bacaan yang bermanfaat sebagai ruang literasi. Di sanalah Forum Anak bertemu dan menuangkan gagasan mereka.
Desa Wisata Menjaga Hak Anak
Senaru merupakan desa wisata yang tidak lepas dari problem anak. Bahkan, menurut Riana Puspita, salah seorang fasilitator Forum Anak, banyak tantangan dalam mengajak anak berpartisipasi dalam mencari jalan keluar persoalan mereka sendiri. Dengan berbagai pendekatan dan tindakan positif yang dilakukan, hal itu berangsur-angsur bisa diatasi.
“Forum Anak Senaru menjadi penampung partisipasi anak, sebagai pelapor dan pelopor dan jadi contoh baik bagi temannya yang lain,” katanya.
Kepala Desa Senaru, Raden Akria Buana, memberi ruang bagi anak-anak di Senaru untuk berpartisipasi dalam pembamgunan.
Di lingkungan keluarga, ia memberi kebijakan penyaluran air bersih kepada keluarga-keluarga yang tidak mampu. Sebanyak 400 an keluarga dengan anak rentan memeroleh pelayanan air bersih melalui PAMDes yang bermanfaat bagi kesehatan anak-anak keluarga itu.
Kepala Desa juga melegitimasi keberadaan Forum Anak agar bisa memperjuangkan hak-haknya. Melalui Forum Anak ini ditemukan titik temu dan solusi bagi anak di desa tersebut. Bahkan ada ruang partisipasi anak dalam pembangunan berupa Musrenbangdes Anak. Desa pun memberikan penganggaran yang memadai sehingga anak-anak berperan aktif terutama di lingkungan teman-temannya.
Forum Anak Senaru aktif memantau aktifitas teman-temannya, misalnya kepada mereka yang berpacaran diusia anak. Berbagai sosialisasi dilakukan dalam menjaga hak-hak anak. Partisipasi anak-anak Senaru dipertegas dengan aspirasi yang mereka tuangkan dalam Musrenbang Anak.
Kiprah Forum Anak
Kiprah Forum Anak Senaru nampak dari beberapa kali mereka melakukan pelaporan adanya rencana perkawinan anak hingga rencana perkawinan anak itu bisa dicegah. Langkah ini sejalan dengan Pemdes setempat yang mempertegas dalam berbagai kebijakannya. Kades Senaru dalam setiap forum pertemuan menegaskan tidak ada ruang bagi perkawinan anak di desanya.
Upaya menambang ilmu pengetahuan dalam hal-hal positif pun dilakukan. Selain fokus dalam kegiatan sosialisasi pencegahan perkawinan anak, Forum Anak juga bersinergi dengan bank sampah setempat. Mereka memanfaatkan limbah yang terbuang kemudian melakukan olah kreativitas seperti membuat bunga plastik dan berbagai jenis keterampilan lain. Hal ini sesuai dengan usulan mereka pada Musrenbang Anak.
Menurut Hanisah, salah seorang tenaga pendidik di Desa Senaru, setelah Forum Anak terbentuk, banyak kegiatan yang dilakukan untuk menunjang program desa. Anak-anak terjun di dunia ekonomi dengan memasarkan produk UMKM hingga ke Jakarta bahkan luar negeri. Keterlibatan mereka mewarnai kiprah desa wisata itu.
“Sejak pendampingan LPA perkawinan anak bisa ditekan, tidak seperti dulu,” cetusnya seraya berharap program kedepan bisa memberi pencerahan dari sisi pendidikan seperti PAUD.
“Anak tidak boleh putus sekolah. paling tidak sampai SMA,” katanya seraya berharap anak anak Senaru menjadi orang tangguh dan mampu mengelola tidak cuma desa wisata melainkan juga produk-produk yang dihasilkannya.
Pemdes Perkuat Perlindungan Anak
Desa Senaru menjadi contoh baik sinergi antara Forum Anak, PATBM dan Pemdes dalam konteks perlindungan anak. Selain menerbitkan Perdes Sistem Perlindungan Anak dan Perdes Pencegahan Perkawinan Anak, Senaru juga telah mendeklarasikan diri sebagai Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Dalam DRPPA, kapasitas perempuan menjadi salah satu point penting.
Karena itu, Senaru memperkuat kapasitas perempuan di desanya serta mengelolanya dalam kegiatan positif. Terutama perempuan yang sudah menginjak remaja atau dewasa, mereka dilibatkan sebagai guide woman. Dampaknya, dengan jumlah penduduk 8.600 an jiwa, keterlibatan perempuan di desa wisata itu menempati posisi 50 besar atau juara 4 daya tarik wisata pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang digelar Kementerian Pariwisata tahun 2021.
“Perempuan bisa menjadi guide panorama dan budaya. Peran mereka pun bersosialisasi bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Perempuan juga harus bisa sehingga mereka bersosialisasi agar tidak terjadi pernikahan di bawah umur,” papar Akria Buana.
Akria Buana mengakui perempuan kerap menjadi korban terutama dalam kasus-kasus perkawinan anak. Oleh sebab itu pihaknya aktif menyosialisasikan Perdes yang sudah diterbitkan di masjid dan tempat umum bersama Forum Anak dan PATBM
Berbagai cara dilakukan untuk memberikan pencerahan agar anak anak jauh dari tindakan yang salah. Sebab, sebagai desa wisata, banyak tantangan yang dihadapi Desa Senaru baik dari dalam maupun dari luar yang harus dihadapi bersama. Baginya, Forum Anak memegang peranan penting karena mereka tergolong paling dekat dengan teman sebayanya dan mengetahui problem yang dialami kawan-kawannya.
Komitmen Desa Senaru dalam perlindungan anak ditunjukkan tidak hanya dalam aspek pencegahan anak rentan melainkan juga dalam penanganan lanjutan terhadap anak rentan. Tidak hanya melakukan penggagalan perkawinan anak dengan melibatkan berbagai pihak, melainkan juga memberikan solusi pembinaan dan rehabilitasi bagi anak-anak rentan yang mengalami problem pelik.
Desa Senaru memiliki shelter khusus bagi anak-anak yang mengalami persoalan kompleks. Shelter itu dibuat atas kesadaran warga untuk memulihkan psikologi anak rentan. Langkah iniditindaklajuti pula untuk tingkat sekolah dengan usulan Forum Anak berupa pendampingan anak rentan berbasis sekolah.
Setidaknya, melalui pohon harapan di desa wisata itu, terpancar cahaya menegakkan hak hak anak ketika segenap unsur berkolaborasi menyikapi persoalan anak. riyanto rabbah.
Deklarasi Kades se Lombok Utara Warnai Launching Nol Perkawinan Anak
