Lombok Utara – Reformasi di tubuh Polri tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan profesionalisme pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga dengan membangun ketahanan mental personel sebagai fondasi pelayanan yang berkualitas. Semangat itu kini terus diperkuat Polres Lombok Utara melalui program “Mendait Epe Pada”, sebuah pendekatan holistik yang digagas Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (Kabag SDM) Polres Lombok Utara, AKP Agus Rachman.
Program tersebut menjadi salah satu terobosan pembinaan sumber daya manusia yang dinilai berbeda. Tidak berorientasi pada aspek administratif semata, “Mendait Epe Pada” hadir untuk memastikan setiap personel tidak menghadapi persoalan hidup maupun tekanan pekerjaan seorang diri.
Fokus pembinaan kali ini diarahkan kepada para Bhabinkamtibmas, personel yang selama ini menjadi ujung tombak Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat hingga ke tingkat desa.
“Bhabinkamtibmas merupakan wajah Polri yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka dituntut hadir selama 24 jam, menjadi penengah konflik, penyelesai masalah, sekaligus pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Namun di balik seragam yang dikenakan, mereka tetap manusia yang memiliki persoalan pribadi, keluarga, maupun tekanan psikologis,” kata AKP Agus Rachman, Kamis ( 6/8 ).
Berangkat dari pemahaman tersebut, Agus memilih turun langsung menemui personelnya di lapangan bersama konselor psikologis. Melalui pendekatan yang lebih personal, ia membuka ruang dialog, mendengarkan keluhan anggota, sekaligus memetakan berbagai persoalan yang dihadapi personel agar dapat dicarikan solusi secara bersama-sama.
Pendekatan itu, menurut Agus, merupakan bagian dari upaya membangun organisasi yang sehat dari dalam. Ia meyakini kualitas pelayanan kepolisian kepada masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis personel yang menjalankan tugas.
“Selama ini masyarakat mengenal Bhabinkamtibmas sebagai problem solver di wilayah binaannya. Tetapi ketika mereka sendiri menghadapi persoalan, organisasi juga harus hadir menjadi problem solver bagi anggotanya. Kami tidak ingin ada personel yang memendam tekanan sendirian,” ujarnya.
Di Kabupaten Lombok Utara terdapat 43 desa, yang masing-masing menjadi wilayah binaan seorang Bhabinkamtibmas. Kondisi tersebut membuat setiap personel harus memahami karakter wilayah, mengenali ribuan warga, hingga mampu merespons berbagai persoalan sosial yang muncul setiap saat.
Kompleksitas tugas itu dinilai menuntut kesiapan fisik, emosional, dan mental yang tidak ringan. Di satu sisi mereka dituntut selalu hadir memberikan solusi kepada masyarakat, sementara di sisi lain mereka juga menghadapi dinamika kehidupan sebagai kepala keluarga, orang tua, maupun individu dengan berbagai tantangan pribadi.
Melalui Program “Mendait Epe Pada”, Polres Lombok Utara berupaya mengubah paradigma pembinaan personel. Kepemimpinan tidak lagi dipahami sekadar memberikan instruksi, tetapi juga menghadirkan empati, membangun komunikasi yang setara, serta memastikan kesejahteraan psikologis anggota tetap terjaga.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Polres Lombok Utara dalam mewujudkan reformasi internal yang berorientasi pada penguatan kualitas sumber daya manusia. Sebab, polisi yang mendapatkan dukungan dari organisasinya diyakini akan lebih siap memberikan pelayanan yang humanis, profesional, dan berkeadilan kepada masyarakat.
Program “Mendait Epe Pada” pun menjadi penegas bahwa reformasi Polri bukan hanya tentang pembenahan sistem, melainkan juga tentang membangun budaya organisasi yang memanusiakan anggotanya. Ketika polisi tidak lagi berjalan sendiri menghadapi persoalan, maka kehadiran mereka di tengah masyarakat akan semakin kuat sebagai pelindung, pengayom, pelayan, sekaligus penyelesai berbagai persoalan sosial. ( ws )














