Puisi Dienullah Rayes

SETAPAK TANAH--SELIDAH API

Dienullah Rayea (kanan)

I

Bumi dipayungi langit purba terkembang
Di dada bumi tersembul tanah air
Di atas tanah air yang mata air
Adalah tanah menyelokan darah
Pun tanah memarit air mata ibu pertiwi
Jelma anak–anak bangsa
Yang mengusik tanah air
Banjir air mata buncah yang galau.

II.

Aku atau siapapun pernah sedekahkan sungguh ikhlas si miskin papa
Perbuatan baik dan bijak itu
Tenggelamkan dalam delta sunyi sepi
Jangan sampai menggetar gendang telinga orang lain.

Perbuatanmu yang jempol fitri religi itu
Sebaiknya coret di pasir pantai lautan
Biar disapu jemari ombak
Hingga sirna bicara busung dada.

III

Bila seseorang tetangga seberang
Menolong dan membantumu dari kesulitan
Yang memberatkan pundak batinmu
Maka pahatlah perbuatan santun itu
Di balik daun pintu papan jati dengan lukisan kaligrafi yang ilahiyah
Budi baik insan yang ikhsan
Wajib senantiasa menggetar di urat nadi selama usia terpateri di urat saraf badan-batin.

III

Lebah mengisap sari bunga
Bunga pun tetap memutik dan membuah
Cairan madu lebah yang humanis dan manis
Obat mujarab bagi insan dan keinsan
Hingga manusia segar-bugar,sehat lahir- batin
Melaksanakan ibadah tuntunan firmanNya.

Tengoklah sepotong lilin
Lidah api melehkan dirinya
Dia memberi cahaya dalam kegelapan ruang jiwa
Dia akal yang berpikir
Mengusik nafsu berkeinginan di luar nalar.

Pulau Sumbawa di bawah kaki langit
Sabtu–tugu 22 Nopember 2025.

Exit mobile version