Di balik sorot lampu panggung, di balik tubuh-tubuh aktor yang menghidupkan naskah, ada gelombang kerja yang tidak selalu tertangkap mata penonton.
Mereka adalah “para supporting”, para penjaga detail, penafsir bunyi, penjaga visual, pemantik imajinasi, serta pengikat ritme kreatif dalam produksi Lakon Borka 2025.
Inilah kisah mereka. Cerita riuh rendah dari ruang-ruang senyap tempat sebuah pertunjukan teater sesungguhnya dilahirkan.
Menjaga Denyut Kreativitas: Peran Agus K Saputra dalam Lakon Borka 2025
Dalam perjalanan panjang Teater Lho Indonesia, hanya sedikit sosok yang lintas peran seperti Agus K Saputra. Ia adalah penulis, analis sosial-budaya, organisator, dan pada momen tertentu: penggerak produksi.
Bagi pendiri komunitas, R. Eko Wahono, Agus adalah jembatan antara gagasan artistik dan kebutuhan teknis. Dari urusan manajemen, komunikasi, keuangan, hingga strategi kreatif, ia hadir sebagai pengikat ritme kerja.
Meski sibuk menulis di berbagai media serta menerbitkan sembilan buku puisi, yang teranyar Imaji Air Api, Agus tetap menaruh dedikasi pada teater.
Ketika Borka 2025 dipersiapkan, kepercayaan itu kembali tertuju kepadanya sebagai produser. Sebuah posisi yang menuntut ketelitian, intuisi, dan ketahanan.
Ia membaca naskah Borka berulang-ulang, membayangkan hubungan antara adegan, musik, penembang, dan desain panggung. Bagi Agus, teater adalah proses dialektik: antara naskah dan masa kini, antara imajinasi dan kemungkinan teknis.
“Jika ada penonton yang pernah menyaksikan versi pertama, mereka akan mendapatkan
sesuatu yang lain kali ini,” ujarnya.
Dengan kepekaan seorang penulis dan ketajaman analitis seorang pengamat sosial, Agus memastikan produksi ini bukan sekadar pementasan, melainkan ruang pencarian dan tafsir baru.
Akmal Sasak: Artistik Minimalis sebagai Kekuatan Adegan
Bagi Akmal Sasak, masuk ke Borka 2025 sebagai penata artistik sekaligus penata cahaya adalah tantangan multidimensi. Naskah versi terbaru menuntut visual yang lebih matang, subtil, dan sarat simbol.
Tekanan konseptual empat pilar Festival Teater Indonesia menjadi batas yang produktif: ia tidak membatasi, tetapi mengarahkan.
Pada awalnya, Akmal ingin menghadirkan artistik yang semi semiotik dengan tema kelahiran. Namun pergulatan bersama naskah, sutradara, dan ritme adegan mengubah arah pencarian.
Lahirlah pendekatan artistik minimalis. Bukan minimalis yang kosong, tetapi minimalis yang bekerja sebagai simbol ruang masa lalu, ruang imaji, ruang pikir, dan ruang masa kini.
Minimalisme ini justru memberi ruang bagi aktor untuk hidup lebih bebas, dan bagi cahaya untuk mengambil peran dramatik yang lebih kuat.
Cahaya menjadi bahasa utama Akmal: penentu suasana, penajam emosi, dan pengikat ritme antaradegan.
Pada akhirnya, Akmal merasakan Borka 2025 sebagai ruang belajar kedua. Kepercayaan yang diberikan menjadi momen pembuktian bahwa artistik tidak harus megah untuk memiliki daya pukau, justru kesederhanaan yang dirancang dengan kesadaran dapat menjadi kekuatan terbesar.
Musik Teater sebagai Jantung Emosional: “Sajian Bunyi” Gde Agus Mega
Musik dalam teater bukan sekadar latar. Ia adalah jantung emosional yang menggerakkan tubuh pertunjukan. Begitulah misi Gde Agus Mega, akademisi etnomusikologi, ketika menjadi penerjemah bunyi dalam Borka 2025.
Ruang bawah tanah yang menjadi latar lakon menuntut pendekatan musikal yang tidak biasa: musik sebagai tekanan, sebagai keheningan, sebagai ancaman, sebagai ritme kerja yang memaksa.
Baginya, tugas utama bukan menciptakan melodi, melainkan membangun atmosfer.
Ia memilih timbre, tekstur, dan ambience untuk menggambarkan kesunyian yang menyakiti, suara logam yang menekan tubuh, hingga ritme mesin yang memvisualkan eksploitasi tenaga manusia.
Di tangan Agus Mega, musik menjadi medium politis—suara bagi penderitaan yang sering tak terdengar.
Ia menciptakan ruang bunyi yang bernafas bersama aktor: ketika aktor menahan napas, musik ikut menciut; ketika ketegangan memuncak, musik menjadi intensitas itu sendiri.
Musik adalah tubuh kedua Borka: ia mengisi celah-celah gelap yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata.
Autentik yang Berkelas: Perjalanan Sanggaita sebagai Penembang
Di tengah hiruk pikuk artistik Borka, hadir suara lembut yang justru menjadi penjaga atmosfer emosional: Sanggaita, mahasiswi UNU NTB yang ditunjuk sebagai penembang.
Meski porsinya akhirnya hanya pada dua adegan setelah kurasi, ia menerimanya tanpa kecewa. Baginya, nilai peran tidak ditentukan banyaknya kemunculan, tetapi ketepatan rasa.
Ia menyanyikan humming yang bersenyawa dengan musik, mengisi ruang emosional tertentu tanpa mencuri perhatian.
Kepekaannya membaca tempo adegan dan mengikuti isyarat pemusik membuatnya menjadi aksen halus yang justru menentukan gradasi rasa pementasan.
Sanggaita adalah bukti bahwa kehadiran kecil bisa menjadi penentu atmosfer. Autentik, sederhana, tetapi berkelas.
Kharisma Priasa: Menata Visual Borka, Menata Bahasa Sunyi
Biasa bekerja dengan musik, Kharisma Priasa memasuki wilayah baru ketika dipercaya menata
visual Borka 2025.
Awalnya ia bingung—bagaimana menerjemahkan sunyi dan teks menjadi bentuk, warna, dan komposisi ruang?
Namun justru kebingungan itu menjadi pintu penemuan. Kharisma menyadari bahwa visual pun memiliki ritme. Ia bisa menjadi aksen, jeda, tekanan, atau gema. Seperti musik, visual adalah bahasa atmosfer.
Bersama sutradara Eko Wahono, ia menelusuri makna demi makna dalam naskah, menimbang setiap warna, tekstur, dan komposisi agar sejalan dengan dramaturgi.
Ia belajar bahwa visual bukan ornamen—melainkan tubuh emosional yang membuat penonton “merasakan” dunia lakon, bukan hanya melihatnya.
Pengalaman ini memperluas horizon kreatifnya: dari dunia bunyi ia melompat ke dunia rupa, dan menemukan bahwa keduanya sesungguhnya saling berkelindan.
Sinerjitas Imaji dalam Borka 2025: Refleksi Salam Efendi sebagai Kru Artistik
Bagi Salam Efendi, bekerja dalam Borka adalah perjalanan merangkai “pecahan-pecahan” imaji yang berserakan.
Naskah Borka baginya adalah dunia yang kompleks, berlapis, dan penuh simbol. Sebagai kru artistik, ia memulai dari naskah, lalu menyeberang ke ruang dialektika bersama sutradara.
Lewat proses yang penuh diskusi, tawaran, revisi, dan penafsiran ulang, Salam memahami bahwa keputusan artistik tidak lahir dari satu kepala, tetapi dari pertemuan banyak imajinasi.
Ia melihat imajinasi Eko Wahono sebagai kekayaan yang menantang: selalu bergerak, melihat celah estetis di setiap detail. Tantangan itulah yang mengasah ketajaman artistiknya.
Dalam Borka, Salam merasakan bagaimana teater adalah seni meramu sinergi—antara naskah, aktor, musik, ruang, cahaya, dan desain.
Ia belajar bahwa artistik bukan soal bentuk, tetapi perpanjangan makna.
Tantangan M. Wahyu Ramdani: Membangun Ruang Emosi Secara Artistik
Bagi M. Wahyu Ramdani, menjadi kru artistik bukan soal kerja teknis belaka. Ini adalah kerja membangun ruang emosional: ruang visual, ruang simbolik, hingga ruang batin yang membalut pertunjukan.
Ia menyadari bahwa artistik yang baik bukan sekadar dipasang di panggung, tetapi dirasakan. Ruang harus memberi napas bagi aktor, bukan menyesakinya dengan simbol berlebih.
Setiap perubahan konsep adalah proses belajar. Ada ide yang dibongkar, ada visual yang diganti, ada simbol yang dihapus demi keutuhan dramaturgi.
Justru dari kerja bongkar-pasang itulah ia menemukan kedewasaan kreatif. Artistik baginya adalah seni memberi ruang: ruang makna, ruang gerak, ruang emosi.
Jika penonton dapat merasakan atmosfer yang ia bantu bangun, ketegangan, kekosongan, tekanan, atau harapan samar, maka kerja artistiknya telah menemukan makna terdalam.
Demikianlah, para supporting ini bukan sekadar kru. Mereka adalah denyut yang membuat Borka 2025 hidup:
- yang menata ritme produksi,
- yang merawat keutuhan artistik,
- yang menganyam bunyi dan suara,
- yang menghidupkan visual,
- yang merangkai simbol,
- yang mengisi celah emosional panggung.
Dari mereka, kita belajar bahwa teater tidak pernah berdiri di atas satu nama. Ia adalah kerja kolektif yang rumit, senyap, dan penuh pengabdian.
Merekalah yang memastikan dunia Borka tidak hanya tampil, tetapi bernapas. (Aks)














