Sayur-Mayur, Usaha Tani Menjanjikan di Lombok Barat Jelang Perayaan Idul Fitri

banner 120x600

Lombok Barat, DS- Prospek tanaman hortikultura jenis sayur-mayur saat ini khususnya di Lombok Barat cukup menjanjikan. Meski beberapa minggu lalu informasi akan turunnya harga komditi sayur-mayur menjadi isu yang kurang bersahabat dengan petani, untuk saat ini harganya mulai normal dan meningkat baik permintaan yang terbilang cukup tinggi di tingkat petani maupun di tingkat pasar.

Tanaman hortikultura utamanya jenis sayur-mayur di Lombok Bartat ternyata masih cukup prospektif. Apalagi kebutuhan sayur-mayur hari-hari terakhir menjelang tibanya perayaan Idul Fitri 1447 permintaannya cukup tinggi. Meski harganya sempat menurun di pasaran beberapa waktu lalu,  kenaikan kembali terjadi sejak minggu-minggu terakhir bulan puasa ini.

Para petani hortikultura di Lombok Barat yang dikonfirmasi mengaku merasa senang dengan terjadinya kenaikan harga di tingkat petani maupun di pasaran. Penurunan harga terjadi mengingat stok di pasar berlimpah. Namun dari sisi ekonomi petani dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan, petani mengaku masih beruntung.

Harmain (35) petani sayuran kembang kol asal Labuapi, Lombok Barat membandingkan, pada musim panen sebelumnya, harga perkilo bunga kol di pasaran bisa menembus Rp10.000. Ia menyadari pada saat itu, petani lainnya masih jarang yang menanam sayuran jenis ini.

“Namun suatu waktu banyak yang mencoba menanam kembang kol dan panen secara bersamaan. Akibatnya harga turun menjadi Rp7000 perkilonya,” kata Harmain yang ditemani istrinya saat panen di Labuapi, belum lama ini.

Saat ini Haramain merasa cukup lega karena harga sayur-mayur sudah mulai berpihak ke petani. Ia memperkirakan, kenaikan harga sayur-mayur mengalami kenaikan karena permintaan dari para konsumen  cukup tinggi, sementara produksi sayur-mayur oleh petani masih minim.

“Jadi permintaanya cukup tinggi sehingga harganya pun menghalami kenaikan apalagi menjelang tibanyanya perayaan Hari Raya Idul Fitrui 1447 yang bersamaan dengan hari raya Nyepi bagi ummat Hundu,” tukas Haramain.

Ditanya soal pemasaran,  Haramain tak terlalu mengkhawatirkannya. Selama ini ia memasarkannya ke sejumlah pasar seperti pasar Kebon Roek, Pasar Bertais, Pasar Pagesangan (Mataram), Pasar Labuapi, Pasar Perampuan, Pasar Kediri, Pasar Gerung di Lombok Barat.

“Di sejumlah pasar tersebut kebutuhan sayur-mayur permintaannya masih tinggi. Karena itu peluang pasar tanaman holtikultura ini tetap stabil,” jelas Haramain yang juga anggota Kelompok Tani Labuapi 4.

Terkait penyakit yang suka menyerang tanaman, Hamdi tidak menampiknya. Paling banter serangan hama ulat daun seringkali mengancam tanaman sayurnya. Salah satu cara untuk membasminya dengan menyemprotkan insektisida ulat daun.

Hamdi juga melakukan persemaian bibit kol sebelum di tanam di sebidang tanah yang luasnya 15 are. Ia membeli bibit sebanyak 10 gram dengan harga Rp.100 ribu. “Dari 10 gram bibit tersebut menjadi 1.500 batang.
Masa panen terhitung sampai 45 hari. Dan untuk 15 are ini rata-rata kami bisa menghasilkan antara 5-6 kwintal kembang kol,” kata Hamdi. (adi)