Selamat Jalan Bli Yadnya, Semangatmu Tetap Menyala

Catatan Riyanto Rabbah

Ket. Foto : Silaturrahmi ke tokoh pers Widminarko. (Foto koleksi Widminarko).

Suaranya terdengar lemah dari seberang. Dia mengaku baru beberapa hari di sebuah RS di Denpasar Bali, persis setelah balik dari Lombok bulan Desember lalu.

“Nafas tiba-tiba ngos-ngosan dan anak saya mengantar ke rumah sakit. Gejala lain seperti nyeri tak ada, ” kata Wayan Suyadnya ketika sambungan telepon mengantarkan percakapan kami 24 Desember 2025.

Beberapa hari kemudian, ketika kutelepon untuk kedua kali, suaranya mulai rada rapuh, pendek-pendek: masih dalam perawatan.

“Saya disuntik 12 kali sehari di beberapa bagian (tubuh), ” tuturnya sambil menyebut bahwa hal itu dilakukan untuk pemulihan jantung yang bocor.

Sulit dibayangkan, bagaimana jarum suntik itu menyengat setiap dua jam. Kondisi yang tak pernah dipikirkan karena Suyadnya mengaku sama sekali tak merasakan gejala lain sebelumnya. Begitu mendadak, serangan sakit membuat nafas dan vokalnya tidak biasa.

Dan, saya kemudian hampir selalu menunggu kabarnya.

Di hari berikutnya WA mengantarkan kiriman gambar tentang kondisinya yang semakin kurus dengan infus dan slang oksigen melintang di ujung hidungnya ketika ia sudah pindah perawatan di RS Bali Mandara. Tangannya terangkat seolah-olah mengatakan bahwa ia masih kuat. Tapi hatiku sangat bersedih. Ini bukan pemandangan biasa.

Ia seakan memasrahkan diri namun terasa semangatnya masih menyala dalam diam dibalik belenggu sakit di hari itu.

Persis di penghujung perayaan Nyepi saya teringat lagi dengannya setelah lama tak berkabar dan menyampaikan selamat hari raya. Ironis, tidak lama berselang kabar duka itu menghentak, “Wayan Suyadnya meninggal dunia di RS Bali Mandara”.

Nyepi yang dirayakan umat Hindu  seperti sebuah pertanda yang sempurna. Tanggal 20 Maret 2026. Hari terasa sunyi.

Berita ini merupakan kabar duka kedua setelah beberapa hari sebelumnya jurnalis senior, Muslimin Hamzah, menghembuskan nafas terakhir di Mataram. Keduanya merupakan alumni Bali Post yang memiliki integitas dalam dunia jurnalistik.

Kenangan yang Tersimpan
Kami merupakan rekan seangkatan di Bali Post tahun 1990 an. Suyadnya bertugas di NTB sebelum ke Jakarta dan saya ke NTT sebelum ke Bali dan NTB. Kami pun sempat bersama di NTB.

Selepas pengabdian di Bali Post, Suyadnya hijrah ke Bali. Dia menghubungi saya agar membantunya sebagai kepala perwakilan Pos Bali di NTB sekaligus pengasuh rubrik sastra. Saya ingin memompa semangatnya dengan bersedia memenuhi ajakan walau hari hari sangat padat kala itu.

Di sela-sela pekerjaan sebagai jurnalis, ia mendirikan warung makan di Denpasar namun tidak.berusia lama.

Hanya berkisar 1-2 tahun saya kemudian mengundurkan diri. Beberapa waktu berselang ia menyusul menangguhkan jabatannya sebagai Pemred Pos Bali. Tak cukup di sana, ia mendirikan koran baru, Media Bali, dengan semangat yang tetap menyala.

Kami banyak bertukar pikiran tentang masa depan media cetak ditengah arus digital yang deras. Suyadnya nampak masih sangat yakin dengan alternatif media cetak sepanjang pemerintah memberi ruang.

Suyadnya selalu mengambil contoh Majalah Religi yang sempat saya terbitkan, sebagai inspirasi yang menjadikan setiap lembar halaman berharga.

Sekali waktu saya ke Bali dan ditunjukkan kantornya yang bertingkat megah. Duduk ngobrol di kafe dan bersilaturrahmi dengan tokoh pers, Widminarko.

“Ada orang yang mempercayakan usaha ini dengan segala perlengkapannya itu sudah menjadi sebagian besar modal, ” kataku padanya.

Cara Menghargai Karya Tulis
Fenomena media massa dengan rilis-rilis berita dari berbagai lembaga sering menjadi topik perbincangan kami sebagai ancaman semangat menggali berita . Kami selalu meluangkan waktu bertemu baik di Lombok maupun Denpasar untuk berbagi cerita.

Namun, selaku jurnalis yang dikader ketat di Bali Post, integritas adalah pelajaran penting bahwa sebesar apapun tantangan, wartawan harus tetap menulis.

“Jangan malu wawancara dan menulis berita hanya karena merasa tua. Kalau pun sudah merasa lelah, menulis opini bisa jadi pilihannya”.

Setidaknya, ide dan ketajaman intuisi bisa disampaikan dalam bentuk opini. Sebaliknya jika mengalah pada keadaan menghimpun rilis yang membabi buta, biarkan ia sebagai pernik-pernik yang lumrah ada.

Nampaknya pesan ini mengena sehingga belakangan Suyadnya mulai menulis opini kritis, lugas dan tajam setiap hari yang dibagikan via medsos. Opini itu kemudian dihimpun dalam sejumlah buku. Tidak hanya menyangkut fenomena media massa melainkan juga membukukan peristiwa yang dia alami sebagai bagian dari peristiwa jurnalistik. Dan, Suyadnya nampak senang memperlihatkan buku-buku terbarunya.

Ia juga mengajak bergabung di lembaga Satu Pena walau saya menolaknya karena kesibukan. Saya hanya mengirimkan satu naskah cerpen yang kemudian dibukukan bersama penulis lain. Satu yang belum terlaksana adalah cita-cita membuat kebun edukatif di atas lahan miliknya di Mataram. Cita cita ini untuk membangun unit-unit baru jurnalisme kekinian

61 Tahun Tutup Usia
Puluhan tahun mengabdi di dunia jurnalistik bukanlah waktu yang singkat. Tantangan yang berat kadang membuat seorang jurnalis menanggalkan profesi itu.

Suyadnya yang lahir 6 Oktober 1965 berani mengambil segala resiko. Semangat itu yang membuatnya tumbuh bahkan dipercaya sebagai anggota KPID dua periode.

“Padahal di periode kedua ini saya merasa tidak yakin terpilih,” katanya ketika suatu saat kami bertemu bertepatan dengan wisuda putri saya di Universitas Udayana.

Dan, kerja kerja serius itu bukan tanpa hasil. Ketika di usia ke 61 tahun Tuhan memanggil, legasinya kaya sebagai sosok jurnalis yang berani dengan kontrol sosial yang kuat.

Selamat jalan Bli Wayan. Amor Ing Acintya.

Exit mobile version