Mataram, DS-Kabupaten Sumbawa menunjukkan perkembangan signifikan dalam perlindungan anak di ponpes dengan tercapainya zero kasus kekerasan terhadap santri.
Hal itu dikemukakan aktivis peduli anak yang juga pengurus LPA Kabupaten Sumbawa, Fatriatulrahmah, Rabu (4/2), menyusul mencuatnya kasus kekerasan seksual di Lombok Timur dan Lombok Tengah.
Fatriatulrahmah yang acap kali melakukan penanganan kasus yang menimpa anak ini mengakui tahun-tahun sebelumnya ponpes di Sumbawa diwarnai kekerasan terhadap anak hingga puluhan santri menjadi korban. Kekerasan tidak hanya secara fisik antarsantri melainkan juga seksual yang melibatkan para pembina ponpes.
Namun, kata dia, tahun 2025 tidak ada lagi kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan ponpes. Hal itu disebabkan mulai gencarnya sosialisasi ke lembaga pendidikan agama khususnya ponpes di Kabupaten Sumbawa.
Menurutnya, setiap penerimaan siswa baru, pengurus ponpes kini aktif mengundang lembaga perlindungan anak, psikolog, PPA Polres termasuk institusi pemerintah dalam melakukan sosialisasi hak-hak anak dengan berbagai regulasinya.
“Setelah kasus demi kasus mencuat seperti pelecehan seksual beberapa tahun lalu, ponpes mulai aktif mengundang kami, termasuk unit PPA Sumbawa, ” katanya.
Sosialisasi yang dilakukan terkait dengan pemahaman tentang kekerasan baik verbal maupun seksual hingga bully. Hal ini tidak hanya menyasar santri melainkan juga para pembina di seluruh ponpes.
Berkat kesadaran itu, ponpes di Kabupaten Sumbawa bersih dari kasus pelanggaran terhadap hak-hak anak. Para santri pun mulai memahami bagaimana cara melindungi diri dari kasus kekerasan.
“Dalam sosialisasi kita praktikkan juga bullying seksual dan fisik, seperti apa? Termasuk jenis kekerasan dan yang rentan sebagai pelaku seperti apa? Kita pun memaparkan UU dan ancaman terhadap pelaku kekerasan, ” papar perempuan inspiratif dari Sumbawa ini. Ian














