Ternak Kadang Lebih Diperhitungkan Ketimbang Anak

Satriadi, SP

LKLU, DS-Hewan ternak terkadang lebih diperhitungkan ketimbang anak. Ketika hewan peliharaan tidak ada, pemiliknya begitu sibuk mencari namun disaat anaknya belum pulang kadang tak mau dicari.

Hal itu dikemukakan Kepala Desa Bayan, KLU,  Satriadi, SP, di Tanjung belum lama ini, mengibaratkan gambaran masyarakat terkait terjadinya banyak kasus perkawinan anak.

Ia mengemukakan dua faktor utama penyebab perkawinan anak di Desa Bayan, yakni keluarga dan lingkungan. “Rata rata latarbelakang keluarga korban perkawinan anak adalah buruh tani,” katanya.

Terkait faktor lingkungan tidak lepas dari pergaulan anak bersangkutan. Komunikasi yang lebih mudah dengan akses yang cepat itu membuat norma adat ditinggal. Sering pula terjadi anak menikah ikut-ikutan kawannya.

Dampak yang ditimbulkan, kata dia, munculnya banyak janda akibat kasus perceraian dari perkawinan anak dan stunting di sektor kesehatan. Ketika cerai, lanjut dia, laki lakinya atau perempuannya merantau dan anak- anak dititip di rumah neneknya.

” Dampak lainnya, anak yang kurang perhatian menjadi korban pelecehan,” kata Kades yang mengakui banyak kasus perkawinan anak diketahuinya setelah kejadian.

Satriadi mengakui rata rata pendidikan orangtua di Bayan rendah.

“Saya orang pertama sekolah SMP dan SMA.Banyak yang gak tamat sekolah sehingga banyak pemahamn yang tidak logis diterima, ” katanya.

Menurut Satriadi, selain pendampingan LPA di Desa Bayan, ia mengharapkan ada kesepakatan bersama se Kecamatan Bayan mengingat perkawinan yang terjadi tidak hanya antar warga di satu desa melainkan juga warga antar desa.

Hal ini guna mengurangi resistensi mengingat pihak yang menghalangi perkawinan anak sering kali dimusuhi.
“Kalau saya saja buat Perdes, bagaimana kalau desa yang lain tidak, ” cetusnya. Ian
.

Exit mobile version