Tutur katanya lembut, penampilan sederhana, perangainya pun kalem. Kerap kali tamu yang menyapa ia sambut dengan senyum ramah, berikutnya dijawab dengan bahasa Sasak, “berembe” (bagaimana, red).
Inaq Sarimah namamya, asal Mapak Dasan, Kelurahan Jempong Baru. Warga setempat menyapanya dengan panggilan Inaq Imah. Ia dikenal sebagai tukang urut lintas generasi. Hingga usianya 50 tahun jalan saat ini, ia konsisten menerima setiap pasien yang datang dari berbagai penjuru Pulau Lombok untuk diurut.
Sepesifikasinya tukang urut khusus patah tulang. Namun keluhan yang terkait dengan sendi, urat syaraf dan sejenisnya juga diterimanya.
”Prinsipnya tolong-menolong bantu masyarakat yang mengalami gangguan patah tulang, keseleo dan sejenisnya,” kata Inak Imah membuka percakapannya dengan DS, akhir pekan lalu.
Saat ditemui di tempat praktiknya sekaligus rumahnya yang tepat berada di samping kanan Gedung Kosgoro NTB,Jalan Lingkar Selatan, Kota Mataram, ia tengah mengurut salah seorang pasien yang mengalami cedera pergeseran tulang akibat jatuh dari kendaraan.
Dengan pelan dan penuh kasih sayang, bahkan sesekali bertanya tentang sakit sang pasien. Inaq Sarimah mengurut pasiennya, mendeteksi urat yang terasa sakit dan kemungkinan-kemungkinan terjadinya pergeseran tulang. Setelah itu ia urut pelan dari bawah keatas. Terkadang gerakan tangannya melingkar.
Meski ada teriakan sakit dari pasien yang diurut, bagi Inaq Sarimah, itu adalah hal yang biasa sebagai bagian dari proses pengurutan. Setelah diurut dan membalurkan minyak pelicin, bagian yang terkilir kembali diolesi minyak khusus tradisional Sasak. Kemudian dibalut dengan perban untuk mengencangkan pergelangan kaki.
Sarimah yang mengaku hampir 11 tahun menekuni pijat patah tulang ini mengatakan keahliannya dalam memijat pasien patah tulang, sakit urat syaraf ataupun gangguan persendian, merupakan bakat alami yang menurun dari orangtuanya HM Saeful Arifin.
HM Saeful Arifin sendiri dikenal luas sebagai tukang pijat spesialis patah tulang dan urat terkenal, tidak hanya di Mataram, bahkan dikenal hingga luar daerah.
“Bakat sebagai tukang urut turun-menurun dari orangtua. Saudara-saudara saya juga mewarisi keahlian yang sama dari orangtua. Pasien saya berasal dari berbagai desa. Ada yang dari Sumbawa, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur bahkan dari Jawa, ” katanya.
Soal tarif tergantung kemampuan dari pasien. “Kita tak terlalu menentukan tarif khusus. Yang penting kita bisa bantu orang,” tambahnya. (adi)














