Mataram, DS-Sebanyak 1.798 remaja dan anak di Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Timur, mengikuti Life Skill sejak 12 Oktober hingga 22 November 2024. Para remaja itu berasal dari 15 desa sasaran intervensi Program Berani II yang fokus dengan isu perkawinan anak.
Life skill education training delivered by peer facilitators at school and community dilaksanakan di 5 titik di setiap desa. “Lima titik sasaran pendidikan life skill tersebut adalah sekolah dan dusun di desa bersangkutan,” terang Sekretaris LPA (Lembaga Perlindungan Anak) NTB, Sukran Hasan, Kamis (28/11).

Sukran mengatakan jumlah peserta dari 15 desa yang mencapai 1.798 orang anak/remaja (laki-laki : 788 orang, dan perempuan: 1.010 orang) itu melampaui target yang sebanyak 1.500 anak/remaja. Hal ini disebabkan antusiasme anak dan remaja di desa untuk ikut serta dalam kegiatan yang diwarnai pula dengan berbagai jenis permainan.
Ia mengatakan keterampilan hidup bagi remaja untuk pencegahan perkawinan anak sangat penting mengingat perkawinan anak merupakan persoalan sosial yang berdampak buruk bagi perkembangan remaja dan generasi penerus di NTB. Dampak psikologi, kesehatan, kekerasan dan kemiskinan menjadi ancaman nyata bagi remaja yang menikah di usia anak.
Karena itu, perkembangan kemampuan dan keterampilan remaja, baik dalam lingkungan sekolah maupun kesehariannya di luar sekolah, merupakan hal yang sangat vital didukung bersama dalam membantu mereka berkembang, bertransisi ke masa dewasa dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.
“Hal ini merupakan harapan bersama untuk menciptakan generasi masa depan Indonesia yang tangguh dan berdaya saing,” katanya.
Life Skill Berani II yag disupport oleh CANADA dan UNICEF itu sendiri bertujuan memberikan pengetahuan tentang keterampilan hidup bagi remaja di desa untuk pencegahan perkawinan anak agar dapat mengembangkan dan meneruskan ke teman sebaya lainnya di desa dan di sekolah.
Sedangkan hasil yang diharapkan agar peserta mengetahui tentang pentingnya mencapai cita-cita dan wajib belajar 12 tahun. Pun mengetahui tentang dampak buruk perkawinan anak. Kegiatan yang dilakanakan oleh LPA NTB tersebut difasilitasi oleh kader desa serta fasilitator remaja terlatih. ian














