Dari balik pintu kaca, bola mata menembus ruang toko kecil itu. Pada etalase kayu tergantung koran yang berjejer seperti perempuan-perempuan yang berbaris, sisanya bersandar pada rak papan berwarna coklat.
Koran itu dilipat dan disteples. Hanya tersisa judul berita bagian depan. Aku tak ingin menyebut pemilik toko itu pelit hanya karena dia menyembunyikan sejumlah kata kata lain dari balik lipatan. Sesekali aku menekuk lipatan kecil sekadar mengintip rubrik budaya.
Penjaga toko di Pabean sering mengamatiku membolak balik koran minggu pagi. Jika mau baca gratis cukup di halaman depan. Sedangkan kalau mau membaca tiap halaman harus dengan merogoh saku. Tentu mesti membelinya.
Tahun 1989, betapa berharganya kata-kata dan berbagai karya tulis. Aku harus berjalan kaki sepanjang empat kilometer karena tidak banyak toko buku di kotaku. Sampai di sana, tak pula mudah untuk bisa mengetahui. Banyak orang yang berdiri hanya untuk mencarii informasi basi yang sudah bebas harga. Tentu dari koran lama.
Rangkaian proses yang panjang sejak produksi dengan editing ketat hingga ke mata warga membuat untaian kata di atas lembaran koran seperti petuah nabi.
Namun, masa telah memangkas harga kata di hari ini menyusul mulai terkuburnya mesin ketik, faximily, kamera manual. Telepon kantor bergagang dibuang atau masuk gudang. Koran-koran digital menjalar di selembar layar.
Kata kata hari ini disusun dan dihapus dengan mudah, diupload sekehendak hati. Di copy paste, dishare. Nilainya anjlok, bahkan kehilangan harga. Identitas penulisnya menjadi tidak penting karena medsos direbut semua kalangan. Setiap orang adalah mesin penyampai kabar dibalik akun berbagai nama.
Nama-nama terkenal yang lahir di era cetak dengan tulisan terukur mulai luntur, tenggelam bersama renungan. Bentuk baru tayangan terhampar di layar sentuh, cantik, estetik, pandai beretorika.
Sedangkan tulisan justru pudar dan beralih pada kalimat yang singkat, lebih singkat dari kata yang seharusnya. Yang menjadi yg, di mana jadi dmn, dst. Akun akun serba pintar dan seakan pintar mengelola kabar berita, menghimpun respon, menulai likes. Hampir tak ada waktu bagi karya mendalam. Hari makin cepat, isu berlumur isu, membunuh isu.
Kini aku tak perlu lagi berjalan kaki sejauh itu. Di dalam kamar, pada sejentik jari, ribuan kabar bertengger menawarkan diri. Entah dari mana asalnya? Ia menari nari tidak seperti masa lalu yang berproses dari pintu ke pintu.
Kata-kata bagai ceracau kutilang di pasar burung. Saling berinteraksi. Riuh ramai. Belum ada lomba, belum ada pemenang, belum ada nama-nama. Semua.mendapat tempat namun cepat kehilangan tempat.
Era anti karat ini cukup lama tidak melahirkan idola sebagaimana aku dahulu mengidolakan karya seseorang. Karena apa? Mungkin saja sebab kini tak perlu lagi menjenguknya dengan berpeluh? Karena, rindu sudah jadi peluru. riyanto rabbah














