Ketika Ali BD Berkata : Bolehkah Aku Bertanya?

Refleksi tentang Demokrasi, Mahasiswa dan Kebebasan Berekspresi dalam Penolakan Film "Pesta Babi"

Ali BD
banner 120x600

Film dokumenter investigatif dengan judul PESTA BABI karya Dandy Laksono merupakan film yang mengangkat isu deforestasi hutan untuk perkebunan industri. Film ini merekam kerusakan lingkungan sekaligus nasib rakyat yang bermukim di Papua Barat Selatan.

Film tersebut pada 7 Mei 2026 dihajatkan menjadi.ajang nonton bareng (nobar) di halaman salah satu UKM Universitas Mataram. Namun, yang terjadi adalah pembubaran oleh aparat kampus terhadap mahasiswanya yang hendak memutar film tersebut. Hal serupa juga terjadi di salah aatu kampus di Kota Mataram pada 25 April 2026.

Ali BD lewat akun media sosialnya, demi menyaksikan fenomena itu, mengulik sebuah pertanyaan besar yang diajukan ke publik dan para intelektual : “Bolehkah Aku Bertanya (mengapa film itu dilarang)?

Baginya, Negara ini berdiri di atas prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi. Konstitusi pun telah menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan informasi dan menyampaikan pendapat.

Ketika mahasiswa ingin menonton, mendiskusikan dan belajar dari film dokumenter dengan mengangkat tema yang beranjak dari realitas sosial, hal itu sekaligua menjadi bagian dari pendidikan kritis yang seharusnya dilindungi.

Pelajaran dari Sejarah

Ali mengurai posisi mahasiswa yang mendirikan rezim baru pada tahun 1966, menggantikan rezim lama yang represif.

Mereka adalah mahasiswa dan pelajar. KAMI dan KAPPI turun ke jalan, menanggung risiko besar membawa perubahan. Dari perjuangan mereka kemudian generasi sesudahnya menikmati hasil seperti meraih jabatan, kekuasaan dan kekayaan.

Belajar dari sejarah, tiga dekade kemudian, yakni pada tahun 1998, lahir pula sosok-sosok yang menggulingkan Orde Baru. Ternyata, lagi-lagi adalah mahasiswa yang menduduki gedung DPR dan MPR. Mereka membuat presiden terguling yang sekaligus menunjukkan bahwa dari keberanian para mahasiswa Orde Reformasi lahir. Ali BD meyakini yang menggulingkan Soeharto bukan ketua partai saat itu.

Sehingga, menjadi wajar jika menegaskan bahwa kekuasaan yang dulu lahir dari keberanian mahasiswa itu kini justru digunakan untuk menekan cara berpikir dan gerakan mahasiswa itu sendiri?

Kebebasan yang dikhianati

Secara implisit mantan bupati Lombik Timur ini bertanya, pantaskah kekuasaan yang hari ini digenggam digunakan sebagai alat untuk membungkam? Jika hal itu terjadi maka saat ini sedang terjadi pengulangan sejarah yang dulu dilawan.

Mahasiswa bukan musuh negara. Mahasiswa adalah penjaga nurani bangsa. Ketika ruang diskusi ditutup, ketika film dokumenter dilarang, maka yang mati bukan hanya satu film melainkan tradisi berpikir, bertanya dan mencari kebenaran.

Johan Bachri menanggapi uraian Ali BD dengan mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, tanpa gerakan mahasiswa Indonesia akan dikuasai para politisi jahat yang bersinergi dengan pengusaha hitam.

Panca Cakra Yuda mengemukakan bahwa harus diaadari betapa bobroknya sistem pendidikan yang digrogoti oleh kepentingan politik. Intervensi politik itu baik dengan catatan haruslah dalam kadar yang wajar.

Panca Yuda mengaku tahu betul tingkat idealisme nasionalisme dan kiblat politik bro Dandhy Dwi Laksono yang profesinya sebagai jurnalis investigatif dan memilih C. Paju Dale selaku sutradara sekaligua tidak meragukan atitude mereka.

“Pemerintah menggunakan kompas partai dalam menavigasi haluan politiknya tapi kami stay menggunakan kompas moral, ” tulisnya.

Namun Gottar Para mengatakan sesuatu yang berbeda. Apa pentingnya film “Pesta Babi” untuk bangsa 85% muslim ini (makan babi juga nggak!) kok ikut-ikutan membela?

“Biar dibilang idealis gitu?” tulisnya. “Lombok tanahnya juga hancur, Ndak ada suara2 kritis, ” lanjutnya.

Secara garis besar demokrasi tidak cukup dirayakan di tanggal 17 Agustus senagai ekspresi kemerdekaan melainkan dalam keseharian bisa hidup termasuk di kampus dan ruang diskusi film.

“Bolehkah kita bertanya? ” kata Ali BD.

Tentu apa yang dikatakan Ali bukan sebatas pertanyaan yang menuai jawaban dalam berbagai komentar melainkan juga sedikit penjelasan tentang posisi mahasiswa yang ingin mengekspresikan dirinya di kampus.

Bertanya adalah hak namun diam adalah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan. Ian