Selong, DS- Di tangan orang-orang kreatif, sampah yang selama ini menjadi masalah bisa membawa berkah. Seperti yang dilakukan oleh Camat Terara, Lalu Haryadi. Ia memanfaatkan sampah-sampah basah sebagai makanan magot yang bernilai ekonomis tinggi.
Maggot merupakan salah satu pakan ternak alami yang kaya akan protein. Namun sayangnya budidaya maggot saat ini masih asing di tengah masyarakat. Bahkan banyak juga yang geli dan merasa jijik dengan belatung yang satu ini. Padahal Larva yang berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF) ini menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Selain bernilai bisnis, keberadaan maggot juga mampu meminimalisir sampah. Terutama sampah-sampah basah seperti sisa makanan, limbah sayur, buah dan lainnya. Semakin banyak rumah maggot, maka sejatinya semakin banyak pula sampah yang dimanfaatkan.
Camat Terara, Lalu Haryadi, menuturkan rumah maggot miliknya dibangun sejak beberapa tahun lalu. Hal itu dilatarbelakangi oleh kebutuhan pakan ternak dan ikan miliknya. Harga pakan ternak semakin hari semakin mahal sehingga ia berinisiatif untuk membuat pakan alami sendiri.
“Kalau hanya mengandalkan pakan toko maka kita tidak bisa untung, kalau pun untung tidak seberapa. Bahkan bisa-bisa jual ayam hanya untuk beli pakan saja. Kalau maggot kan kita produksi sendiri,” terangnya.
Dikatakan, selama ini masyarakat yang bergerak di dunia peternakan khususnya ayam, ikan dan burung, jarang memikirkan pakan terlebih dahulu. Padahal hal utama di dalam peternakan maupun perikanan ialah pakan.
Kebutuhan pakan sampai panen cukup besar sehingga salah satunya untuk menghemat pengeluaran dan besar keuntungan dengan membuat pakan sendiri.
“Budidaya maggot ini juga tidak terlalu ribet dan sulit. Kuncinya mau itu saja. Saya yakin kalau konsep ini ditetapkan maka peternak kita akan berhasil. Rata-rata persoalan peternak kita ialah masalah pakan,”
sebutnya.
Dikatakan, permintaan maggot saat ini sangat tinggi, namun rata-rata rumah maggot di Lombok belum bisa memenuhi tingginya permintaan pasar. Bahkan dirinya mendapat permintaan tiga kuintal maggot per minggu. Tapi produksi maggot yang dihasilkan masih hitungan kilogram.
Harga maggot kering saat ini Rp 110 per kilogram bahkan lebih untuk yang sudah dikemas. Sedangkan maggot basah diharga Rp 15-25 ribu per kilogram. Selain menjual maggot besar, baby maggot, telur maggot, pula, lalat hingga sisa maggot juga bisa dimanfaatkan dan dijual.
“Makanya maggot ini sebenarnya tidak ada yang tersisa, tidak ada yang terbuang semuanya bisa dimanfaatkan. Limbah maggot dan sisa maggot bisa menjadi pupuk organik,” katanya.
Rumah maggot di Lombok saat ini belum ada yang secara kontinu memproduksi telur maggot. Sehingga kebutuhan telur maggot masih bersandar dengan pulau Jawa. Hasil produksi maggot tergantung skala. Jika skala besar maka produksi yang dihasilkan akan banyak.
Diakuinya, rumah maggot miliknya saat ini tidak hanya terfokus pada jual beli. Namun dirinya ingin menjadikan desa-desa di kecamatan Terara bahkan semua desa di Lotim minimal memiliki satu rumah maggot. Melalui rumah magot miliknya diharapkan menjadi rumah edukasi maggot bagi masyarakat dan pemuda yang ingin bergerak di bisnis maggot
“Alhamdulillah beberapa desa di Kecamatan Terara sudah kami bimbing untuk budidaya maggot. Jika satu desa satu rumah maggot, maka semakin banyak masyarakat yang bisa diberdayakan dan sampah juga semakin sedikit yang terbuang,” katanya.
Sejumlah dusun di kecamatan Terara saat ini juga tengah didampingi mengembangkan rumah maggot. Setiap desa memiliki dana pemberdayaan. Dana tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masing-masing desa sebagai modal untuk pemberdayaan masyarakat melalui peternak dan budidaya maggot.
Kalau awalnya produksi maggot miliknya difokuskan untuk kebutuhan pribadi seperti.pakan unggas, burung dan ikan di kolam, tahun ini mulai fokus menjual baik telur maupun maggot kemasan untuk pakan.li
