Dari HPN ke Happy End (3)

Bertemu Orang Ramah, Bukakan Mata Tentang Banten

Ketika namanya disebut, ia pun tampil ke atas panggung yang megah. Malam Anugerah JMSI 2026 yang dihadiri Ketum Teguh Santosa berlangsung meriah menampilkan sosok-sosok dengan kiprah yang menonjol di masyarakat.

 

Namanya Encop Sofia, S. Ag, MA. Tidak akan ada yang menyangka jika ibu kelahiran tahun 1971 ini merupakan anggota DPRD Banten selama empat periode. Pasalnya, penampilannya bersahaja, gaya bicaranya seperti orang kebanyakan. Lugas, sederhana.

Dia merupakan salah satu peraih penghargaan pada Malam Anugerah JMSI tahun 2026 bersama tokoh lain seperti Munafri Arifuddin (Wali Kota Makassar), Mathius Derek Fakhiri (Gubernur Papua), Ferry Juliantono (Menteri Koperasi), dan Dahnil Anzar Simanjuntak (Wakil Menteri HAM).

Sedangkan Encop Sofia terpilih menjadi salah satu peraih Anugerah Golden Leader 2026 untuk  kategori Pemimpin Emas.

Tidak banyak figur yang bisa bertahan sebagai anggota dewan dalam jangka waktu lama namun Encop Sofia bisa. Hal itu tentu disebabkan kiprahnya sebagai salah seorang pemimpin perempuan di Provinsi Banten yang sangat diperhitungkan.

“Ah, ini kan karena teman-teman JMSI, ” ujarnya merendah seusai menerima penghargaan di Hotel Horizon, Serang, Banten, Ahad (8/2).

TEMANI WARTAWAN HINGGA LARUT MALAM

Ketua JMSI NTB bersama pengurus didampingi Encop Sofia melakukan kunjungan ke Museum Banten Girang.

Bagi Ketua JMSI NTB, H Boy Mashudi. penghargaan yang diterima Encop Sofia merupakan suatu kebanggaan bersama. Mengapa? Encop Sofia menjalin keberterimaan yang luar biasa dengan kru JMSI NTB yang terasa lama walau dalam waktu singkat

“Baru dikenal, pengenalan seakan sudah terasa lama, sangat dekat serta familiar. Ini seperti keluarga besar, bertemunya kakak dan adik-adiknya, ” ujar Boy.

Gambaran itu kian terasa seusai acara penganugerahan. Sofia nampak gelisah. Ia seakan ingin berbuat sesuatu ketika melihat pengurus JMSI NTB berkerumun di lobi. Waktu sudah di atas pk. 22.00 di saat dirinya merasa belum mengenalkan  Banten kepada para jurnalis.

“Bagaimana kalau saya ajak keliling yang dekat-dekat saja, sekitar 4 kometer? ” tanyanya. “Bapak-bapak kan tidak lama di sini, sayang kalau belum berkeliling di dalam kota saja. ”

Gerimis yang berjatuhan tidak menjadi tirai penghalang. Menggunakan dua kendaraan, rombongan menuju ke lokasi terdekat mengingat waktu semakin larut.

Encop Sofia menjelaskan jalan raya yang dilalui menuju Museum Banten Girang. Jalan yang kini tidak mudah diperlebar karena di kanan kiri sudah padat penduduk.

Di areal museum terdapat berbagai pajangan yang berkaitan dengan upaya penyelamatan, pelestarian dan informasi-informasi sejarah Kesultanan Banten.

Sepanjang perjalanan, Encop Sofia pun menceritakan banyak hal tentang situs arkeologi Banten. Hal yang tak kalah penting termasuk upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah setempat.

Pertemuan kemudian.diakhiri dengan makan malam di sebuah kafe megah, tentu atas traktiran wakil rakyat yang sangat familiar ini.

BUKAKAN MATA TENTANG BANTEN
Sehari sebelumnya, seusai ziarah makam dan mengikuti Rakernas JMSI di depan Hotel Horison, Encop Sofia menjamu semua rombongan JMSI NTB ke sebuah rumah makan.

Melalui Encop Sofia diketahui menu khas Kota Serang seperti Sop Ikan, Sate Meranggi dan beberapa cemilan khas yang enak di lidah.

Ketua JMSI NTB, Boy Mashudi, yang sudah mengetahui Encop Sofia adalah ustri (alm) Rusdi Tagaroa, dalam sekapur sirihnya mengaku kenal almarhum sudah sangat lama.

“Beliau aktivis dan banyak kadernya,’’ kata Boy.

Encop Sofia semula menjadi anggota DPRD Kota Serang selama 2 periode dan sekarang anggota Fraksi Partai Gerindra 2 periode. Ia mengucapkan terima kasih atas kunjungan wartawan yang dinilainya sebagai pejuang-pejuang dari NTB.

Ketua JMSI NTB juga membalas terima kasih ini dengan ucapan yang sama. Bahkan untuk menghibur silaturrahim itu, H Boy Mashudi menyumbangkan sebuah lagu menemani santap malam bersama.

Bagi Widianto, jurnalis asal Lombok Timur, Encop Sofia memberi pengetahuan dan pemahaman banyak hal tentang Banten khususnya Kota Serang. Semula Widi mengira Serang kota kecil biasa disebabkan minimnya informasi dan kunjungan langsung.

“Ibu Dewan telah mengajak dan memberi informasi yang lebih bahwa di Banten ada sesuatu yang tidak seperti kita duga, ” kata Widianto yang merasakan kehadiran Sofia membukakan matanya tentang Banten Ian

Exit mobile version