Dari HPN ke Happy End (5)

De Djawatan, Ketika Raungan Kereta Tergantikan Derap Langkah Kuda

De Djawatan, 10 Februari 2026.

Memasuki areal ini, angin berdesir lembut di bawah rindang pepohonan yang menjulang. Siapa sangka, tempat ini dulunya adalah lokasi mangkal kereta api yang menghubungkan dengan beberapa daerah di Jawa.

Raungan kereta api tidak terdengar lagi. Kini suasana berubah sunyi. Namun, bukan berarti kawasan ini hanya menyisakan kenangan dengan sisa rongsokan. Justru keberadaan De Djawatan — merupakan singkatan dari Djawa Selatan — telah meredam riuh dan menjadi destinasi wisata hutan lindung yang ikonik di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.

Pohon trembesi yang tinggi menjulang dengan batang meliuk kiri dan kanan terbungkus sulur-sulur tanaman merambat seperti bulu-bulu halus. Batang-batang berukuran raksasa yang hitam kehijauan mencoba menjangkau langit hingga menutupi sebagian sinar matahari.

Suasana itu menimbulkan kesan magis di satu sisi namun disisi lain memberi nuansa menyejukkan di tengah cuaca panas menyengat.

Sebagai destinasi wisata rimba, berbagai jenis pepohonan dibiarkan tumbuh menaungi pengunjung yang berteduh di bawahnya. Tangga kayu tinggi sekira 10 meter tidak sanggup menjangkau pucuk trembesi tetapi sangat asyik dimanfaatkan sebagai pilihan selfi sekaligus mengamati areal indah di bawah sana.

Sekelompok kecil dokar berkerumun menanti penumpang dengan kusir yang tengah memegang kendali. Beberapa wartawan yang jadi wisatawan merapat untuk menambah sensasi.

“Limapuluh ribu untuk tiga orang, ” ujar seorang kusir, Saijan. Angka yang tak lagi bisa ditawar.

Masa yang tak pernah dinikmati Gen-Z berada di belakang kendali, kali ini menikam hati. Dedi, pria asal Dompu mengiyakan biaya itu walau hanya berdua saja.

Cukup dengan beberapa kali hentakan, kuda pun berlari mengikuti alur jalan yang dilaluinya setiap hari. Beberapa rombongan wartawan melintas dengan dokar masing-masing.

“Sebagian besar kuda betina yang kami gunakan, kalau kuda jantan cepat bereaksi, ” kata sang kusir. Kuda jantan ketika melihat betinanya sering kali berontak, sulit dikendalikan.

“Saya sendiri.hanya punya satu, kuda betina saja, ” ujar Saijan, ayah dengan tiga anak.

DARI SEPUR KLUTUK KE KERETA KUDA
Dahulu De Djawatan adalah tempat penimbunan kayu hasil hutan untuk kawasan Jawa bagian selatan. Karena itu, di areal ini juga terdapat pelayanan moda transportasi Sepur Klutuk atau kereta api sebagai pendukung pengangkutan kayu.

Pohon trembesi itu sendiri, berdasarkan informasi yang dihimpun, bukanlah produk kayu yang dimanfaatkan untuk dikirim ke pabrik-pabrik pengolahan melainkan sebagai peneduh untuk melindungi timbunan kayu dari pelapukan akibat curah hujan maupun sergapan cahaya matahari.

Ketika era itu berubah menyusul penutupan pangkalan Sepur Klutuk, tahun 2018 De Djawatan memulai era baru dan menangkapnya sebagai peluang di sektor pariwisata. Beberapa fasilitas pendukung dilengkapi termasuk moda transportasi untuk wisatawan yang tak menciptakan polusi.

“Sejak mulai dibuka tahun 2018, sejak itulah angkutan dokar beroperasi di sini, ” terang Saijan lagi.

Menurut Saijan, terdapat 16 kusir yang beroperasi di area De Djawatan. Mereka berbagi shif dalam operasi permintaan wisatawan yang datang dari berbagai daerah.

Alur yang dituju sudah ditentukan termasuk ongkos yang harus dikeluarkan. Panjang jalur, kata Saijan, sekira tiga kilometer. Tarif Rp 50 ribu sekali putaran itu sendiri tidak bisa berubah karena sudah sesuai hasil kesepakatan bersama para kusir.

De Djawatan buka setiap pk. 08.00 hingga 17.00 WIB. Bagi Saijan, batas waktu itu cukup untuk bisa menarik penumpang yang hasilnya digunakan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan dokar yang ia gunakan hanya ada di destinasi wisata itu.

Pohon tua

POHON TUA SEBAGAI ASET PARIWISATA
Memiliki. pemandangan magis dengan ratusan pohon trembesi berumur ratusan tahun, De Djawatan menyerupai hutan dalam film-film horor. Justru karena itu pula areal yang dikelola Perhutani tersebut sangat instagramable dengan spot foto dengan berbagai versi.

Kesan purba sekaigus syahdu seakan membangun fantasi berada dalam hutan lebat di masa lalu. Perca-perca cahaya hanya masuk selintas menembus pepohon yang menjadi kanopi alami.

“Orang-orang film sering memanfatkan areal ini untuk pengambilan gambar, ” kata Ikliludin, Ketua PWI NTB.

Film itu diantaranya Kupu-Kupu Kertas (2024), drama percintaan yang berlatar belakang konflik politik, disusul film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) dan Jeritan Malam (2019).

Destinasi wisata De Djawatan memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya menjadi pilihan favorit bagi wisatawan.

Hutan purba menawarkan suasana alam yang asri dengan pepohonan rindang dan udara yang segar sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan merasakan ketenangan yang tidak dapat ditemukan di perkotaan. Pun keanekaragaman hayati seperti burung, kupu-kupu, dan hewan lainnya.

De Djawatan menjadi tempat yang ideal untuk relaksasi dan penghilang stres. Suasana alam yang tenang dan damai membantu mengurangi stres dan kelelahan.
Hal yang tak bisa dinafikan adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan karena dapat menjadi tempat pendidikan dan penelitian ekosistem hutan, flora dan fauna.

Tentu saja setiap wisatawan memerlukan pengalaman unik yang tidak ditemukan di tempat lain namun ada di De Djawatan. Itulah sebabnya mengapa trembesi tua tidak ditebang melainkan dikelola sebagai aset wisata.

Tidak mengherankan, daya pikat lokasi unik ini menyedot pengunjung dari berbagai daerah. Fasilitas seperti toilet, mushola, warung makanan, tumbuh meningkatkan perekonomian.

Apakah pemandangan seperti ini ada di Lombok? Tentu saja ada, yakni di Sambelia dengan pohon purba ratusan tahun. Hanya saja, walau sama memiliki potensi, nampaknya masih ada perbedaan cara pengelolaan. Ian

Exit mobile version