Dari HPN ke Happy End (8 selesai)

Kenangan dan "Keajaiban" Penerbangan Banyuwangi-Lombok

Mencoba penerbangan Banyuwangi-Lombok adalah turut serta merawat keberlangsungan konektifitas udara tidak hanya antara dua wilayah melainkan pula pergerakan wilayah lain sebagai efek domino keberadaannya.

Peristiwa yang sering membuat kesal di bandara adalah saat “dipaksa” membuka ikat pinggang. Celana praktis melorot lagi. Bola mata pun menyisakan waktu menanti mesin X-Ray yang mendeteksi segala barang bawaan.

Namun, di Bandara Blimbing Sari Banyuwangi kekesalan itu berkurang. Memasuki area ini seperti menemukan Bandara Selaparang tempoe doeloe. Lingkungan yang masih lengang, ruang terbuka dan langkah kaki yang tidak terburu buru membuat hati lebih nyaman.

Tak ada barang yang disita saat bawaan memasuki Baggage Screening Area. Berbeda dengan di awal perjalanan dari Bandara Lombok menuju Jakarta. Kala itu terdapat barang terlarang yang terdeteksi. Ukurannya kecil, tempatnya tersembunyi dalam koper dengan nomor kunci rahasia hingga menyita waktu membongkarnya. Benda itu silet yang masih berada dalam kotaknya. Butuh waktu lama mengembalikan koper yang berantakan.

Namun pada Rabu, 11 Februari 2026, tidak ada peristiwa seperti itu lagi.
Suasana Bandara Banyuwangi berjalan seperti biasa. Pelayanan ke sejumlah rute masih aktif, termasuk dari Banyuwangi menuju Lombok.

Inilah pertama kali kru JMSI menggunakan jalur udara Banyuwangi-Lombok pada pk. 12.55 WIB setelah rute ini dibuka 21 Desember 2025. Rute yang dilayani pesawat ATR 72 berkapasitas 72 kursi beroperasi empat kali seminggu pada Senin, Rabu, Jumat dan Minggu.

Karena tergolong baru, kursi penumpang belum terisi penuh. Kursi yang ada terisi sejumlah wisatawan mancanegara dan rombongan JMSI NTB.

Ya, kami akan meninggalkan Banyuwangi bersama kenangan manis setelah beberapa hari berkecambah melakukan perjalanan dengan riang gembira.

KENANGAN DI BANYUWANGI
Sejak awal keberangkatan 7 Februari, sudah terkawal konsep perjalanan serangkaian Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT JMSI yang harus menyenangkan. Datang dalam keadaan segar pulang tidak membawa lelah kecuali rasa gembira.

Oleh karena itu, sebelum kembali ke kampung halaman, kegiatan dirangkai dengan kunjungan ke sejumlah obyek wisata. Selebihnya istirahat di kebun yang sejuk dengan berbagai hiburan di Boy Farm Vila Kebalen.

Hal ini pula yang membuat Ketua PWI NTB, Ahmad Ikliludin, yang memiliki sejumlah kesibukan selama HPN, turut datang ke Banyuwangi dari Jakarta walau terlambat sehari.

Hiburan dari kelompok band lokal mewarnai suasana disertai lantunan lagu dangdut di bawah kawalan Bang Andek. Ternyata, dari kalangan jurnalis muncul bakat penyanyi seperti Dedi Dompu, Ray Aruman, Muhyidin, Widiyanto, terlebih Bang Andek dan H. Boy Mashudi yang sudah lebih dulu tenar.

Kemunculan jurnalis penyanyi NTB ini sejalan dengan program Porwanas PWI yang juga akan melombakan karaoke dalam salah satu cabang lomba. Tentu saja lagu dangdut yang ramai diperdengarkan adalah karya H. Rhoma Irama seperti Lelaki, Tung Keripit, Begadang, Darah Muda, dan lain-lain.

Ahmad Ikliludin dalam acara hiburan di Vila Kebalen, di hadapan sejumlah tamu undangan, menuturkan perjalanan para owner media dari Jakarta, Banten dan Banyuwangi sebagai perjalanan yang ke sekian kali khususnya menuju Banyuwangi.
Dalam acara yang meriah itu, dilakukan pula pembacaan puisi berjudul “Kiniku Laluku” oleh Riyanto Rabbah. Selebihnya adalah memborong oleh-oleh khas Banyuwangi berupa pakaian dan makanan.

Sebagaimana perjalanan maka setiap langkah harus membawa kesan yang positif dan pesan yang mendalam. Setiap perjalanan adalah wisata yang tidak boleh membawa lelah sesampai di rumah melainkan pengetahuan serta kesegaran karena memeroleh pengalaman baru.

DORONGAN KEBUTUHAN
Keberadaan rute penerbangan Lombok-Banyuwangi dan sebaliknya didorong kebutuhan mempermudah mobilitas masyarakat, mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan mempercepat distribusi produk UMKM.

Rute baru ini membuka akses lanjutan ke 10 kota termasuk Kupang, Waingapu, Tambolaka, Bima, Sumbawa, Makassar dan Balikpapan serta membawa efek domino pada sektor wisata dan ekonomi.

“Rute, maskapai dan destinasi adalah hubungan simbiosis mutualisme. Kami mempromosikan destinasi dan destinasi ikut mempromosikan rute,” teringat ucapan Danang Mandara Prihantoro, Corporate Communication Strategy Lion Air Group termasuk Wings Air, pada konferensi pers di UPT Command Center Dinas Kominfotik di Mataram, Rabu (10/12/2025).

Tetapi, kata dia, keberhasilan rute tidak hanya bergantung pada maskapai, tetapi seluruh ekosistem bandara, hotel, ASITA, travel agent, desa wisata hingga UMKM.
Ekosistem pariwisata Lombok kini dinilainya inklusif karena semua pihak berbagi data, strategi dan kampanye destinasi untuk memastikan Lombok menjadi destinasi favorit.

Berdasarkan ungkapan Aidil Philip Julian, General Manager Angkasa Pura Indonesia Cabang Lombok, hingga November 2025, BIZAM melayani 2.478.000 penumpang, melampaui total penumpang tahun 2024 sebesar 2.380.000 orang. Bandara menangani rata-rata 76 pergerakan pesawat per hari.
Meskipun demikian, kapasitas bandara masih jauh dari maksimal. Bandara Lombok mampu melayani 7,4 juta penumpang per tahun, sementara realisasi baru 2,4 juta sehingga masih ada ruang pertumbuhan yang sangat besar.

Membayangkan keunikan destinasi antara Banyuwangi dan Lombok, peluang hidup stabil bandara optimis bisa tercapai. Keberhasilan rute baru itu sendiri diukur dari penjualan tiket bulan pertama dengan target okupansi lebih dari 70% sebagai syarat mendekati titik cost recovery. Jika satu tahun penuh okupansi stabil berarti rute sehat dan layak..

LEBIH SINGKAT DARI MATARAM-SELONG
Perjalanan laut yang pernah kru JMSI NTB coba memerlukan waktu sedikitnya 13 jam dari Pelabuhan Lembar ke Ketapang. Sedangkan waktu tempuh via udara Banyuwangi – Lombok 1 jam 20 menit, jauh lebih efisien dibandingkan jalur darat. Bahkan dari Mataram ke Selong.

Perjalanan ini memang tidak sebatas persoalan harga melainkan juga masalah nilai lain seperti kecepatan, kebugaran dan efisiensi. Ada kalanya ingin jalan-jalan lebih lama. Semua tergantung tujuannya.

Satu keajaibannya, setelah pesawat landing di Lombok, kami tidak berada pada waktu yang sama. Perubahan dari WIB ke WITA telah mempercepat perjalanan waktu dari Zuhur ke Ashar.

Dan, keesokan harinya, tak terdengar kabar ada peserta meringkuk sakit kecuali celotehan kenangan manis seperti baru saja meraih kemenangan. Ian

Exit mobile version