Desa Wisata Kembang Kuning Luncurkan Makan Siang Bergizi Gratis, Sasar 600 Pelajar dan Lansia

Makan siang bergizi gratis di Kembang Kuning

Selong, DS – Desa Wisata Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, meluncurkan Program Makan Siang Bergizi Gratis, Rabu (09/10/2024). Kegiatan peluncuran dihadiri Direktur Pengembangan Produk Unggulan, Desa dan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, M. Fachri, Direktur Intelijen Kejaksaan Agung dan Pj Sekda Lombok Timur.

“Ini baik sekali ide dari temen temen di Desa Kembang Kuning untuk melakukan uji coba terhadap program makan siang bergizi gratis yang nanti akan diterapkan pak presiden terpilih setelah dilantik,” ucap Direktur Pengembangan Produk Unggulan, Desa dan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, M. Fachri.

Program makan siang bergizi gratis, kata Fachri, tidak lepas dari peran pemerintah Desa. Desa akan menjadi bagian dari ekosistem dari program ini. Karna itu, kata dia, sejak dini pemerintah desa harus menyiapkan diri dengan baik mulai dari pengelolaan menu makanan, distribusi hingga proses penganggarannya.

“Melihat situasi yang ada, pasti desa dilibatkan menjadi ekosistem program ini termasuk bumdes. Karna jumlah desa di Indonesia itu banyak 75.265 desa sehingga sangat mungkin, hampir pasti desa menjadi bagian dari program makan siang bergizi gratis,” tandasnya.

Menu program makan siang bergizi gratis ala desa Kembang Kuning berasal dari sumber daya lokal dari beras, sayur – mayur, telur dan susu. Semuanya disuplai dari warga setempat. Program ini dibiaya secara mandiri bekerjasama Pemerintah Desa dengan Bumdes Syariah milik desa.

“Kami hanya melaunching program ini. Selanjutnya kami menunggu pedoman dan petunjuk teknisnya seperti apa dari pemerintah,”, kata Kades Kembang Kuning, H Lalu Sujian. “Sasarannya 600 orang dari siswa PAUD, TK, SD/MI, SMP, lansia dan balita untuk mencegah stunting,” sambungnya.

Menu makan gratis, kata Lalu Sujian, dilakukan secara gotong – royong melibatkan kader posyandu dan petugas gizi dari puskesmas untuk memastikan menu makanan yang diberikan mengandung gizi yang cukup.

“Semua bahanya lokal, berasnya, sayuran dan telur dari desa. Cuman susu yang tidak bisa kami produksi sehingga kami bekerjasama dengan yang lain,” jelasnya.

Kedepan, dia berharap program ini bisa melibatkan pemerintah Desa sehingga siklus ekonominya berdampak terhadap masyarakat desa. Pun dengan kualitas atau gizi menu makanan yang disediakan pasti terjamin.

“Jadi kalau melibatkan masyarakat desa, kader posyandu dan melibatkan bumdes. Dia terseleksi nanti sayur sayuran, bahan bahan lokal terserap semua dan perputaran ekonomi di desa sangat cepat,” ujarnya. ” Siswa dapat makan gratis, orang tuanya bisa menjual berasnya, telurnya ke pemerintah desa melalui bumdes,” imbuh Lalu Sujian. li

Exit mobile version