Mataram, DS-Harga cabai rawit yang meroket tajam di sejumlah pasar di NTB, khususnya di Kota Mataram dan sekitarnya, menunjukkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Para konsumen khususnya ibu rumah tangga banyak yang mempertanyakan harga cabai rawit yang melonjak signifikan.
Dari sebelum masuk puasa harganya berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp100 Ribu per kilo kini sudah meroket kembali ke titik tertinggi hingga Rp150 ribu per kg.
Nurjannah, salah seorang pedagang asal Lingsar, Lombok Barat, yang berjualan di Pasar Mandalika Kota Mataram merasakan tingginya harga cabai rawit yang dibawa para pengepul yang sebelumnya diambil dari para petani.
“Kami terpaksa ambil meski harganya cukup mahal per kilonya. Mau tidak mau saya ambil cabainya mengingat permintaan juga banyak di bulan puasa ini. Kami mengambil untung tipis, namun yang penting lancar saja,” katanya ditemui di Pasar Mandalika, Bertais, Kota Mataram, Sabtu (7/3/2026).
Keluhan yang sama juga dirasakan Nurmah yang sehariannya berjualan sembako termasuk bumbu-bumbu dapur di Pasar Pagesangan, Kota Mataram. Menurutnya harga cabai yang sebelumnya pada kisaran 90 ribu sampai 100 ribu per kilonya di Pasar Pagesangan dalam hitungan beberapa hari saja harganya sudah melonjak drastis hingga Rp140 ribu hingga Rp150 ribu.
Tingginya harga cabai rawit tidak hanya dikeluhkan para pedagang.melainkan juga para pembeli. Para konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian.
“Bahkan pelanggan kita membatalkan transaksinya setelah kita kasi harganya agak mahal saat ini,” ujar Nurmah.
Kenaikan harga tidak saja terjadi pada cabai, tapi juga pada bumbu dapur yang lain. Ia mencontohkan, harga bawang merah naik dari Rp 35 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilonya. Demikan juga bawang putih dari semula harganya Rp34 ribu menjadi Rp 40 ribu per kg.
Pedagang lainnya di Pasar Kebon Roek Kota Mataram juga menyebutkan hal yang sama.
“Semua naik sekarang, harga cabai merah besar semula harganya Rp 28 ribu melonjak Rp 40 ribu/kg. Dan untuk cabai hijau besar semula Rp 20 ribu menjadi Rp 30 ribu/kg. Termasuk kelompok sayur-mayur juga mengalami kenaikan antara Rp700 hingga Rp10 ribu,” keluhmya.
Menyikapi hal ini Kepala BPS NTB, Wahyudin, dalam keterangannya menyebutkan terjadi inflasi dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok terutama pada komoditi bumbu dapur selama puasa ini.
Karena itu, ia mewanti-wanti jika tren inflasi NTB sejak awal tahun menunjukkan eskalasi yang perlu diwaspadai.
Pemantauan yang dilakukan pihaknya menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika konsumsi masyarakat, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,52 persen.
Menurutnya, ada lima komoditas utama yang mendongkrak inflasi di NTB. Posisi puncak ditempati cabai rawit. Harganya sampai terkerek naik hingga Rp150 ribu per kilonya. Dia juga membenarkan selain komoditi cabai rawit yang mengalami kenaikan juga terjadi pada komoditi udang basah, daging ayam ras dan telur.
“Pergerakan ekonomi di Mataram lebih kompleks dengan pola konsumsi masyarakat yang fluktuatif, ibarat pola gergaji, naik turun dengan cepat,” tandasnya.
Menghadapi tingkat inflasi pada kebutuhan pokok masyarakat yang terus mengalami kenaikan, pihaknya mendorong pemerintah daerah segera terjun langsung melakukan intervensi yang terarah dan tentunya tepat sasaran khususnya pada komoditi pertanian. (adi).
