Selong, DS-“Kita berhutang pada masa depan kita. Andai kita gagal ditahun 2025 maka akan dapat beban demografis, ” ujar Pj.Bupati Lombok Timur, HM Juaini Taofik pada penandatanganan MoU, penyusunan aksi bersama dan penetapan tim koordinasi Berani II Lombok Timur Menuju Lombok Timur Nol Perkawinan Anak.
Acara yang berlangsung di kantor bupati setempat, Rabu (3/7), selain dihadiri Pj. Bupati Lombok Timur, juga dihadiri stakeholder yang terdiri dari Ormas, LSM dan dunia usaha.
Menurutnya, akan terjadi persoalan beban demografis kalau tidak ada upaya mengatasi perkawinan anak.
“Masalah administratif sudah kita beri kemudahan. Namun persoalan itu ada pada nilai di masyarakat. Jangan bangga kalau masih ada perkawinan anak, ” cetus Juaini.
Ia mengatakan kalau Lotim sudah memeroleh terbaik kovergensi stunting, hal itu simbol kerja keras bersama seperti dengan NGO dan pihak lain sehingga juara satu. Stunting itu sendiri berkaitan dengan perkawinan anak.
“Karena itu, perlu dijaga. Harus ada tindakan preventif dengan mengatakannya berulang ulang. Tolong dalam setiap pengajian para ustad menyuarakan ini, ” katanya seraya menambahkan bahwa perkawinan anak adalah masalah bersama.
Sementara ini terdapat 5 hingga 10 isu transformaai sosial. Ia pun mencari apa yang paling cepat dijalankan diLotim dan paling cepat menyelesaikan semua masalah. Dalam kaitan ini, stunting dan pencegahan perkawinan anak harus dijalankan dengan kerja keras.
Karena itulah ia mengaku senang jika NGO melakukan pendampingan di desa desa di Lotim. Dengan penduduk 1, 4 juta jiwa atau sama dengan Sulawesi Barat, jumlah penduduk itu bisa mendatangkan masalah sosial jika tidak segera disikapi.
“Bayangkan kalau urusan keluarga ini tidak ada yang menyemangati, penduduk Lotim akan menimbulkan persoalan sosial, ” kata Juaini seraya menegaskan tema transformasi sosial harus jadi substansi program dan didorong bersama. Ian
Deklarasi Kades se Lombok Utara Warnai Launching Nol Perkawinan Anak
