Ini Kata Ali BD Soal Beda Sade dengan Desa Adat di Baduy dan Bali

Ali BD
banner 120x600

Kebakaran yang menghanguskan rumah-rumah khas warga di Dusun Sade Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, tidak hanya menimbulkan kerugian material melainkan juga menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Bagaimana seharusnya Sade dibangun kembali?

Ali BD, Bupati Lombok Timur dua periode dalam akun facebooknya Selasa (25/8), mengutip Guru Muhir dan kawan-kawan yang menyampaikan lewat surat terbuka mengingatkan agar renovasi tidak melupakan nilai-nilai yang menjadi jiwa Sade.

Peristiwa ini dianggap penting untuk meluruskan pemahaman: apakah Sade termasuk “dusun/desa adat” seperti Baduy di Banten atau Tenganan di Bali.

Berdasarkan penelitiannya di Desa Kanekes, Baduy, pada 2009-2013, desa adat memiliki 3 ciri utama.

Pertama, pemerintahan dijalankan oleh hukum adat. Kepala desa di Kanekes disebut “Jaro” dan dipilih bukan melalui UU Desa melainkan oleh para tokoh masyarakat. Kedua, ada sanksi adat yang mengikat seluruh warga. Ketiga, ada tanah ulayat seluas 510 Ha yang pengelolaannya diawasi ketat oleh sistem adat.

Hal serupa juga terlihat di Bali. Desa “Bali Aga” seperti Tenganan dan Trunyan yang sangat kuat menjaga adatnya.

Bedanya, di Bali sistem pemerintahan UU Desa dan sistem adat Banjar berjalan paralel. Kepala Desa dipilih sesuai undang-undang, sementara urusan adat ditangani Banjar dengan awig-awignya.

“Di Bali kedua sistem yakni pemerintahan desa berdasarkan Undang Undang Desa dan pemertintahan desa berdasarkan adat dapat berjalan sendiri sendiri tanpa menimbulkan duplikasi sistem, ” ujarnya.

Artinya, kepala desanya dipilih sesuai dengan ketentuan Undang Undang Desa di desa berbeda dengan di Kanekes di mana kepala desanya yang disebut “jaro” tidak dipilih berdasarkan Undang Undang namun Pemerintah memberikan Sekretaris Desa untuk menjalankan pemerintahan yang berkaitan dengan perogram pemerintah.

Lantas bagaimana dengan Sade?

Menurut Ali, Sade bukan desa adat dalam pengertian struktural seperti Baduy atau Tenganan.

Namun Sade merupakan dusun yang memiliki kekuatan pada pelestarian arsitektur rumah Sasak Selatan.Model rumah dari bambu, kayu, dan alang-alang ini juga masih bisa.ditemui di beberapa kampung di Bali.

Persamaannya dengan Baduy hanya pada material bangunan yang mudah terbakar. Di Kanekes, masyarakat belajar dari pengalaman kebakaran untuk menata letak rumah dan membuat sistem pencegahan.

“Pengalaman masa lalu ,memberi pelajaran bagi masyarakatnya untuk mengatur tata letak dan sistim antisipasi dini untuk mencegah kebakaran atau malapetaka lainnya, ” katanya.

Renovasi Sade tidak bisa disamakan dengan membangun perumahan biasa. Ia. mengatakan bahwa pemerintah wajib meminta saran dari masyarakat Sade sendiri dan para pemikir budaya seperti Guru Muhir.

Menceritaka dirinya saat bertugas di pemerintahan, selaku bupati kala itu Ali merenovasi rumah adat di Desa Limbungan melibatkan warga.

“Biayanya dari pemerintah, karena desa itu berkontribusi pada negara melalui pariwisata, ” cetusnya.

Sade dinilau penting bagi Lombok Tengah karena menjadi penggerak ekonomi warga, penjaga identitas Sasak, dan jembatan budaya bagi wisatawan. Ian