Ummi Ningsih, Pamansam dan Energi Ramah yang Tak Mudah

Ummi Ningsih
banner 120x600

Limbah organik dijadikan modal energi terbarukan, kedengarannya indah. Sampah tak lagi sekadar dibuang, melainkan disulap jadi api untuk memasak. Pemenuhan kebutuhan pun lebih ringan. Tapi semudah itukah memahamkan teori kepada masyarakat?

 

Dulu, saat “Program Bumi Sejuta Sapi” digaungkan di NTB pada masa kepemimpinan TGH Zainul Majdi, biogas muncul bagaikan jalan alternatif. Tema program ini menjadi sebuah harapan. Bayangkan, di setiap kandang yang dikelola kelompok ternak ada potensi energi yang tertidur.

Jika dihitung dengan angka “Sejuta Sapi”, maka yang dimiliki bukan hanya ternak, melainkan jutaan bara, energi. Bayangkan,  di  Narmada, Lombok Barat, semula ada 17 titik reaktor biogas yang tumbuh. Ini seolah akan mudah menyebar di tungku-tungku rakyat melalui replikasi ke desa lain.

Namun tahun 2018 datang musibah gempa Lombok. Tanah retak. Dinding reaktor penampungan pecah. Bersamaan dengan itu, semangat warga pun ikut pudar.

“Sekarang hanya sisa dua saja dari 17 yang sempat dibangun,” ujar Ummi Ningsih, Ketua Kelompok Pengolahan dan Pemanfaatan Sampah (Pamansam) Narmada, Lombok Barat, NTB, Selasa (11/8)

Gempa yang merusak reaktor membuat sebagian warga memilih diam. Enggan memperbaiki yang bocor, ini tentu faktor biaya. Artinya, cita-cita teknologi ramah lingkungan ternyata tidak semudah membalik telapak tangan.

Di sisi lain, di pasaran, tabung gas dan listrik didapat lebih mudah. Lebih cepat. Nyaris tanpa kerja keras. Sedangkan edukasi lingkungan kepada masyarakat memiliki jalan panjang yang berliku tidak hanya bertumpu pada kemauan melainkan juga modal. Kelemahannya tampak sederhana, tapi sangat sangat menusuk.

Menurut Ummi Ningsih, bahan baku biogas harus selalu ada. Asumsinya, seekor sapi bisa menghasilkan 20 kg kotoran per hari sehingga warga yang memiliki reaktor biogas mesti punya sedikitnya seekor sapi. Tapi bagaimana jika sapinya dijual? Nah, itulah yang terjadi ketika salah seorang warga yang memilikinya terdesak kebutuhan sekolah anaknya. Ketika biaya sekolah datang mengetuk, ternak sering jadi pilihan pertama untuk dikorbankan.

Ummi Ningsih

Sedangkan untuk mencari bahan baku ke tempat lain butuh tenaga dan bisa jadi biaya.

“Kalau bahan bakunya habis, praktis produksi gas juga berhenti,” kata Ummi Ningsih.

Pada biogas yang didirikannya secara mandiri, untuk sekadar memasak, Ummi Ningsih mengaku harus memberi “makan” reaktor setiap hari dengan kotoran sapi. Gas yang terkumpul hanya cukup digunakan untuk beberapa jam. Agar gas terus tertampung, setelah dipergunakan, krannya langsung ditutup rapat. Tekanan gas sendiri bisa  naik-turun, diantaranya dipengaruhi suhu.

Dari sisi anggaran, jika dikerjakan secara mandiri,  biaya awalnya  tidaklah  ringan: beton/tabung, pipa saluran dan tenaga kerja. Sebuah gambaran yang bisa saja menjadi beban bagi keluarga desa.

Lahannya pun tidak kecil. Jika dikelola asal-asalan, bau yang muncul justru bisa menjadi pencemaran baru. Karena itu, teknologi biogas ini dalam pandangan Ummi Ningsih, butuh kekompakan semua pihak dari pemangku kebijakan hingga masyarakatnya.

“Tidak hanya warga, tapi juga desa. Dan yang paling penting, kesadaran masyarakat. Agar kita punya pemahaman yang sama,”cetusnya istri mantan kepala desa Narmada ini.

Kendati saat ini hanya dua biogas yang tersisa di desanya, Ummi Ningsih tetap bertahan. Bersama suami, ia tak hanya mengelola biogas. Ampas hasil pengolahan  dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos. Dari kompos muncul pupuk cair dan padat yang  digunakan untuk menyuburkan tanaman. Ummi Ningsih pun menata berbagai jenis tanaman yang bisa dijual seperti bunga-bungaan, serai, dan lain-lain.

Saat ini, Laboratorium Hijau KPS Pamansam, merupakan satu-satunya di Narmada yang konsisten dengan program pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan.  Lokasi itu kini menjadi titik kumpul bagi siapa saja yang punya visi ekologi lingkungan dalam menjaga kelestarian alam.

Mahasiswa Unram acap kali datang menjadikannya rujukan pada saat PKL maupun KKN. Peneliti dari dalam negeri bahkan luar negeri pun berkunjung seperti tamu dari Jepang, Amerika, India, Jerman, duduk bersama di tempat yang dulu sempat menjadi tempat sampah.

Di luar biogas, Pamansam juga memilah sampah organik dan nonorganik lewat bank sampah. Ibu-ibu diajak menganyam sampah plastik menjadi tas dan dompet. Ada pula yang dipress, lalu dijual dengan harga Rp 4.000 per kg. Gambaran ini sebetulnya menunjukkan lingkungan yang tertolong selain adanya tangan-tangan yang bekerja.

Itulah sebabnya Ummi Ningsih bertahan bahkan bermimpi lebih jauh: Menjadikan Desa Wisata Narmada bukan sebatas Taman Narmada dan sejarahnya, tapi ada pemberdayaan. Ada pertanian, kuliner dengan produk olahan. Ada karya seni dari limbah dan tradisi masyarakat yang bisa meramaikan desa dengan kegiatan positif.

“Di sektor pertanian , saat harga jahe murah bisa diolah. Kalau ada masalah, bisa bertanya di sini,” kata Ummi Ningsih yang memiliki jaringan luas dengan sejumlah akademisi yang memiliki basis ilmu dalam pengembangan potensi di desa.

Artinya,  dari biogas Pamansam bisa menciptakan lingkungan dengan sungai-sungai yang bersih, terciptanya kreativitas masyarakat, yang menjadi satu kesatuan dengan desa wisata dan program Desa Berdaya sebagaimana Program Pemprov NTB saat ini.

Ketekunan Ummi Ningsih pernah mengantarnya meraih penghargaan juara I PHBS di tingkat provinsi. Pamansam juga tampil di posisi keempat Lomba PHBS tingkat nasional pada tahun 2013 pada  even yang digelar Kementerian PU untuk Indonesia wilayah Timur. Tahun 2022 Ummi Ningsih terpilih sebagai tokoh, Duta Lingkungan dari BRIN.

Kini, berkat ketekunannya, orang-orang datang kepadanya untuk belajar tentang kerja keras dan kesetiaan terhadap cita-cita ekosistem lingkungan terpadu. Ya,  energi terbarukan yang bukan hanya soal teknologi melainkan juga soal manusia yang mau bertahan di tengah dunia yang memilih jalan mudah. ian