Nampan berisikan jajanan terbungkus daun pisang muda berjejer dengan rapi di sebuah ruang tamu. Jajanan dengan berbagai model, yang baru saja selesai dimasak itu terlihat mengeluarkan uap. Aroma khas jajan tradisional menyeruak di sekitar ruangan.
Sementara di sampingnya, dua orang perempuan muda terlihat tergesa-gesa membungkus jajanan ke dalam mika berkurang sedang. Panas dari jajan yang baru saja diangkat dari penanak seakan tidak dirasakan. Satu mika diisi dengan empat biji kue.
Wida Hardiati Rahmi, penjual jajanan tradisional asal Kecamatan Selong, menceritakan bahwa membuat jajanan tradisional telah dijalani sejak tujuh tahun yang lalu. Sebelum terjun ke jajanan tradisional, ia menjual berbagai macam gorengan dan roti. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
“Awal-awal saya nikah dulu saya jualan gorengan, seperti risol, tahu isi, bakwan, pisang goreng dan lainnya. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Kemudian beralih menjual berbagai macam roti, dan itu juga sebentar karena peminatnya kurang,” terang perempuan yang akrab disapa Wida Rahmi itu, Kamis (28/11).
Ibu dua anak itu menceritakan, sebelum menjual jajanan tradisional, ia hanya membuat sebatas untuk dikonsumsi bersama keluarga saja. Namun karena banyak suka, ia kemudian membuat lebih banyak dan mencoba dijual bersama dagangan yang lain.
Awal-awal menjual jajanan tradisional ini hanya dua macam yakni Jaja Abuk dan Celilong. Setelah dipasarkan melalui postingan status Facebook dan WhatsApp banyak yang melirik. Bahkan jajan tradisional paling laku dibandingkan dagangan yang lain.
“Karena banyak yang nyari, akhirnya saya fokus menjual jajanan tradisional saja, sementara dagangan yang lain saya tinggal kan,” imbuhnya.
Sejak itu, berbagai macam jajanan tradisional mulai dibuat, seperti sumping waluh (makanan berbahan labu), naga sari dan berbagai makanan khas Lombok lainnya, karena banyaknya permintaan dari pembeli untuk dibuat maknan tradisional yang sudah jarang ditemukan, baik di pasaran.
Seiring berjalannya waktu, permintaan jajanan tradisional terus berdatangan. Tidak hanya dari masyarakat biasa, ia juga kerap mendapat pesanan dari kantor-kantor pemerintahan, rumah sakit, acara ulang tahun dan acara-acara besar lainnya.
“Bahakan saya juga sering dapat pesanan ketika ada acara-acara rapat, acara seremonial di kantor-kantor pemerintahan, kepolisian dan lainnya. Sejak itu usaha jajanan tradisional ini semakin berkembang. Awal-awal Pemasarannya hanya memanfaatkan media sosial, seperti Facebook dan WhatsApp saja,” katanya.
Sejak dua tahun terakhir ini, jajanan tradisional cukup laris. Tidak heran jika banyak yang pembeli tidak sampai kebagian. Bahkan para pembeli mesti memesan 1-2 hari, baru kemudian kebagian.Tingginya permintaan kadang membuatnya harus membuat jajanan 2-3 kali dalam sehari.
Terlebih di hari-hari perayaan besar Islam seperti Lebaran, Bulan Puasa, Maulid, isro Mi’raj dan lainnya. Permintaan jajanan tradisional akan naik tiga kali lipat dari hari-hari biasanya.
“Sekarang minimal tiga kali saya buat sehari. Pagi, siang dan sore hari. Dalam sekali pembuatan itu 6-8 kilo untuk berbagai jenis makanan,” ungkapnya.
Disebutkan, jajanan tradisional yang dibuat ini tidak pernah dijual ke pasar-pasar atau dimasukkan ke warung-warung. Namun cukup mengandalkan media sosial dan grab. Tidak jarang para kurir juga harus mengtre pesanan.
Jajanan tradisional itu ia jual dengn harga Rp 5.000 per mika dengan isi empat biji per satu mika. Dalam sehari omset yang didapatkan mulai dari Rp 400-Rp 500 ribu, bahkan lebih di hari biasanya. Jika dihari besar Islam omset akan meningkat dua kali lipat.
“Alhamdulillah meskipun hanya jajan tradisional tapi tidak kalah dengan jajanan modern saat ini. Kebanyakan pembeli jajanan tradisional inibmemng dari kalangan orang tua. Kalau anak-anak muda agak kurang. Orang-orang yang bekerja di kantor biasanya banyak yang beli,” katanya.li
