LOMBOK UTARA, DS-Gerakan bersama menuju NTB nol perkawinan anak dilaunching dalam acara yang cukup apik di Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kamis (13/6).
Hadir Plh Asisten 1 Setda NTB mewakili Pj Gubernur, Bupati Lombok Utara dan jajaran, kepala Bappeda NTB, kepala DP3AP2KB NTB dan jajaran, seluruh kepala desa se Lombok Utara, tokoh masyarakat, tokoh agama dan forum anak.
Acara itu merupakan kolaborasi Program BERANI II (LPA-Unicef), program Inklusi (Fatayat NU dan Lakpesdam NU NTB) dan Program Empower (Islamic Relief Canada).
Plh Asisten 1 Setda NTB, Ir. H. Lalu Hamdi, M. Si, mengatakan gawe gubuk gerakan bersama menuju NTB nol perkawinan anak akan memperkuat komitmen menurunkan perkawinan anak sampai nol persen.
Memberikan sambutan pada acara tersebut, Lalu Hamdi mengharapkan nol persen perkawinan anak segera terwujud.
” Apakah bisa?” ujarnya. “Jelas bisa karena sudah disepakati dalam operasional gerakan. Berarti ada peran stakeholder. Kita harus satukan kekuatan, satukan langkah menuju nol perkawinan anak, ” tegasnya.
Ia menyontohkan penanganan stunting juga dengan gerakan. Terbukti penurunan dari 2022 ke 2023 bisa menembus hingga 8,1 persen.
Menurutnya, acara ini menjadi momentum yang benar dalam memberikan pahaman kepada anak remaja agar jangan menikah di bawah 19 tahun karena banyak resikonya.
Pertama, kata dia, alat reproduksi perempuan belum matang dan belum siap melaksanakan fungsinya. Yang matang antara 20-35 tahun untuk melahirkan bayi sehat.
Ketika perkawinan di bawah 19 tahun. lanjut dia, banyak mengalami kematian karena rahimnya belum bagus berfungsi. Demikian juga anak yang dilahirkan jadi tidak sehat.
“Bisa jadi pengaruh mental orangtua yang belum telaten mengasuh bayinya. Seperti stunting akibat kurang nutrisi,” katanya.
Persoalan ini jika dibiafkan, menurut Hamdi, menjadi beban di masa mendatang karena anak stunting tidak bisa produktif dan mandiri.
Kepala Bappeda NTB, Dr. Iswandi, gerakan bersama dimulai dari Lombok Utara menyusul sudah diterbitkannya Perda.
“Tinggal kemauan dengan gerakan. Kita harus jadikan KLU paling depan dan tercepat menuju nol,” katanya seraya.menambahkan malu dengan merariq kodek karena KLU adalah jendela. “Kalau tidak bisa dilakukan jangan harap bicara SDM yang kuat, ” imbuhnya.
Bupati KLU, H.Djohan Sjamsu, mengatakan anak-anak sekarang tak lagi nangis minta makan tapi menangis minta handphone. Karena itu,.kadang anak lebih tahu menggunakan handphone ketimbang orang tua.
‘KLU banyak juara seperti juara kemiskinan. Syukur ada kolaborasi karena bagaimana pun hebatnya perintah tak akan bisa kalau masyarakat tidak mau. Inilah persoalan daerah yang perlu dikolaborasikan, ” tandasnya.
Ketua LPA. NTB, H. Sahan, SH, dalam laporannya menyebutkan bahwa launching itu merupakan kolaborasi berbagai pihak, antara pemerintah, NGO dan dunia usaha. Dalam kegiatan itu juga dilakukan pembagian paket sembako dan layanan kesehatan maupun Adminduk dari dinas terkait. Ian
