Tanggal 25 Oktober 2025, Thomas harus kembali ke Swedia. Kepulangannya dibalut kerinduan untuk kembali datang ke pulau yang indah ini, Lombok.

Sejak menginjakkan kaki di Lombok, rona wajah Thomas tampak sumringah. Ia menyebut beberapa destinasi wisata untuk dikunjungi seperti Gili Air, Sembalun dan Kuta Mandalika. Untuk ke Gili Air, ia hanya perlu diantar hingga Pelabuhan Bangsal. Tidak berat baginya merogoh saku Rp1 juta semalam selama menginap di gili yang indah itu karena mendapatkan pengalaman menyelam menyaksikan terumbu karang.

Namun, satu yang belum terlaksana, yakni mendaki Gunung Rinjani. Selebihnya, Thomas juga merindukan makanan lokal yang tidak ada di negaranya seperti bakso, sup ikan, sup ayam, nasi goreng, jagung bakar, permen jahe.
“Permen jahe enak, terasa hangat di tubuh. Enak dengan manis gula merahnya,” ujar Thomas tentang permen berbentuk pipih yang dibongkus plastik bening itu. Dengan harga Rp10 ribu sebungkus, ia pun membawa serta permen tersebut ke negaranya.

Thomas juga sudah menyaksikan tingginya nilai-nilai kekeluargaan masyarakat melengkapi keindahan alam yang masih cukup terpelihara.
Walau dengan berat hati, di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Thomas melangkah menuju pesawat sambil melambaikan tangan karena harus kembali bekerja. Ia berjanji suatu saat akan kembali datang ke Lombok yang baginya sangat indah dan sangat sulit dilupakan.
TAK SEBATAS PEMANDANGAN ALAM
Ternyata, pariwisata tidak sebatas pantai yang membentang, atau alam pegunungan yang meneduhkan. Pesona alam yang tersaji, mungkin sebuah anugerah yang patut disyukuri. Namun, hal terpenting adalah interaksi harmonis antar manusia yang merupakan esensi pariwisata.
Keramahtamahan penduduk (hospitality) menjadi salah satu modal penting di sektor pariwisata. Karena itulah, tidak hanya Thomas, wisatawan lain pun merasa tidak khawatir ketika seorang diri mengunjungi Gili Air. Thomas sendiri mengaku sangat menikmati perjalanan wisatanya selama beberapa hari di Lombok dengan aman dan lancar.
“Lombok itu indah, masyarakatnya ramah,” ujar Thomas seraya menambahkan masih ingin menggali pengalaman baru tentang Lombok.
MENGGALI PENGALAMAN WISATAWAN
Fenomena dunia kepariwisataan menunjukkan bahwa para pelancong tidak hanya ingin menikmati pemandangan alam, melainkan juga belajar tentang cara hidup masyarakat setempat sehingga mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu yang selama ini dilihatnya. Tidak hanya melihat dan mendengar, mereka juga berkeinginan menjadi pelaku, bagian dari kehidupan masyarakat di daerah yang dikunjunginya.
Selain destinasi wisata, kuliner khas lokal merupakan salah satu pemikat yang belakangan menarik perhatian wisatawan, apalagi kekayaan kuliner di tiap daerah sangat beragam dan sering menuai pujian para wisatawan karena rasanya yang nikmat. Sebutlah ayam taliwang, jaje tujak, atau minuman seperti kopi Sembalun. Wisatawan ternyata tidak hanya ingin menikmati, pun menjadi bagian yang andil menciptakan sajian itu.
Ketua Pusat Penelitian dan Pengkajian Pariwisata Mataram, Prof. Made Suyasa, mengemukakan banyak kegiatan pariwisata yang bisa membuat tuan rumah berpartisipasi membagi ilmu kepada wisatawan. Dalam berbagai bidang kehidupan dan kebiasaan masyarakat, tidak sedikit informasi dan keterampilan yang ingin diserap wisatawan sebagai sebuah pengalaman kreatif.
Pengalaman kreatif itu misalnya dalam soal memasak dan aktifitas menanam padi di sawah. Teranyar, ikut serta dalam parade nyongkolan dengan mengenakan pakaian adat Sasak. Para wisatawan pun memerlukan pengalaman seperti informasi sejarah mengenai berbagai destinasi yang dikunjunginya.

“Sebagai legasi perjalanan, story teeling sangat diperluan wisatawan,” kata akademisi pariwisata, Bratayasa M.Hum. Ia menyotohkan peninggalan bersejarah seperti Taman Mayura, Taman Narmada, Kota Tua Ampenan, benda-benda peninggalan Belanda, termasuk keberadaan pohon kenari yang masih ada sepanjang Jalan Pejanggik.
Creative tourism selain membuat wisatawan bisa memperpajang lama tinggal, juga menjadikan orang lokal bisa sebagai guru bagi tamunya yang berwisata, termasuk dalam bidang kesenian seperti melukis, tari, gamelan, dan menenun.
“Karena, wisatawan ingin berinteraksi dengan masyarakat, mendapat pengetahuan sekaligus membangun kesan mendalam telah berkunjung ke suatu daerah,” ujar Prof. Suyasa. Pengalaman itu biasa dibagikan wisatawan kepada kawan-kawan di negaranya melalui media sosial sebagai bukti telah mengunjungi suatu daerah dan mendapat pengetahuan tentang daerah yang dikunjunginya.
Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Darma Putra, ketika bertandang ke Mataram, kepada media ini mengemukakan bahwa dalam creative tourism berlangsung pemanfaatan sumberdaya lingkungan sekitar seperti pemandangan alam dengan nilai lebih. Mengambil contoh sekehe kecak di Bali, tarian tersebut dipertontonkan dengan background Pura Uluwatu dengan sunset yang hadir secara alami. Hal semacam ini merupakan ide kreatif.
“Jadi wisatawan tidak menyentuh pura maupun sunset, melainkan memanfaatkan kearifan lokal dan keindahan alam sebagai penunjang dalam memperkaya obyek yang dikunjunginya, ” paparnya seraya menyebut bahwa creative tourism adalah istilah baru yang diperkenalkan tahun 2000 yang sebelumnya disebut culture tourism atau nature tourism.
Menurutnya, cretive tourism dapat membangkitkan perekonomian masyarakat yang memiliki beragam keterampilan. Sebutlah warga yang biasa memasak di rumah akan menjadi chef-chef lokal yang diperhitungkan.
“Dulu tak ada cooking class, kini ada, ” kata Dharma Putra, ilmuwan internasional yang mantan wartawan ini. Keberadaan cooking class menandakan bahwa wisatawan yang datang tidak hanya ingin berlibur. Mempelajari sesuatu yang unik di daerah yang dikunjunginya adalah pengalaman berharga yang dicari.
Melalui kreativitas tersebut sekaligus terbangun interaksi antara orang lokal dan wisatawan. Ujung-ujungnya meniadakan asumsi masa lalu yang menyebut pariwisata sebagai bentuk “penjajahan”.
“Dalam creative tourism budaya tidak dimanipulasi dan dieksploitasi melainkan diberikan tatanan yang lebih indah, ” cetus Darma Putra. “Ketika host mencoba mengajar melukis kepada wisatawan, itu bukan pelayanan biasa melainkan pelayanan ilmu, ” tambahnya.
Perkembangan itu tidak mustahil mengingat semua bentuk pariwisata mesti memiliki unsur kreatif sebagai tindak lanjut pariwisata kreatif.
DAMPAK EKONOMI
Creative tourism memberikan kesempatan kepada wiaatawan mengembangkan potensinya. Dalam kegiatan ini warga lokal yang menjadi host bersama-sama wisatawan melakukan sesuatu sehingga memberi dampak ekonomi dan kesetaraan bagi masyarakat.
“Pergeseran terjadi, dari menikmati secara aktif menjadi menjalani secara aktif, ” ujarnya. Dalam soal ini, turis tetap mengeluarkan anggaran namun mereka juga ikut mengerjakan seperti memasak, menyajikan hidangan sehingga ada pergeseran nilai dari obyek menjadi subyek.
Darma Putra mengemukakan cooking class serangkaian upaya menggali pengalaman wisatawan bisa mendatangkan pendapatan tinggi bagi masyarakat. Mengambil contoh di Bali, seorang turis bisa merogoh kocek Rp350 ribu hingga Rp850 ribu untuk menjadi pelaku sebuah keahlian. Hebatnya, wisatawan dengan bangga memamerkan keahlian barunya ke media sosial.
Langkah seperti itu memang mulai dikembangkan di Lombok namun belum secara menyeluruh di semua destinasi. Salah satunya melibatkan wisatawan dalam pembuatan kopi siong kete di Desa Kembang Kuning, Lombok Timur. Atau mengajak wisatawan membajak sawah seperti di Tete Batu.
Melihat kekayaan destinasi, budaya, kesenian hingga kuliner di NTB, langkah kreatif dengan berbagai bentuk itu, memungkinkan dikembangkan di NTB yang kaya dengan desa wisata. Pasalnya, setiap potensi yang dimiliki memiliki alur atau jalan cerita yang pada dasarnya ingin diketahui wisatawan. Modal besar ini membuka celah bagi kebangkitan perekonomian melalui kegiatan UMKM.
“Pada dasarnya pariwisata itu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga diperlukan cara-cara kreatif dalam mengelola potensi yang ada,” jelas Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Dr.Halus Mandala, M.Hum. Karena itulah, Halus mengakui di kalangan mahasiswanya yang melaksanakan kuliah kerja nyata, berbagai potensi pertanian di desa wajib menerima dampingan agar dikelola menjadi produk dalam kemasan.
Sebutlah potensi perkebunan seperti kakao yang diproses menjadi coklat yang dilatihkan kepada masyarakat. Atau jambu mete yang tidak lagi dijual mentah setelah mahasiswa berbagi keterampilan menjadikannya produk kemasan. Dengan keterampilan ini, warga lokal diharapkan suatu saat bisa menularkan kepada wisatawan yang berminat mengolah keterampilan membuat produk olahan.
Setidaknya, creative tourism merupakan daya tarik baru bagi wisatawan yang bisa mengangkat pariwisata NTB kian mendunia. Mereka tidak hanya datang sebagai penikmat melainkan juga pelaku kebiasaan masyarakat dan mendapatkan pengalaman baru yang berdampak ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat.














