Mataram, DS-Menampilkan sedikitnya 60 karya dari 24 perupa, Pameran Lukisan bertajuk “Mengurai Kebekuan” berlangsung di Taman Budaya NTB, hingga 30 Oktober mendatang.
Para perupa berasal dari dua generasi berbeda, yakni generasi kedua dan generasi ketiga. Generasi pertama seperti Gusti Lanang Kebon, Targi Abdullah, Tarfi Hijaz, I Wayan Pengsong, dan Joko Prayitno.
Generaai kedua yang tampil dalam pameran seperti Gusti Lanang Putra, Nengah Kisid, Lalu Syaukani, Satarudi Tacik, Suryantl, Soewito Moekarni, Toni Moesajid, Mahendra, Sarbini, dan Artha Kusuma.
Pameran ini terkait dengan upaya menggairahkan kembali apresiasi seni lukis. Selama ini, tidak sedikit perupa yang kehilangan ruang pameran kemudian larut menghilang dari permukaan. Karena itu, untuk membangun gairah, mereka sampai dicari ke tempat tinggalnya guna menemukenali kembali dirinya dalam karya lukis.
Ketua Panitia, Esti Ebhi Evolisa, Sabtu (25/10), mengaku mesti berjuang kembali merebut para perupa dengan mendatangi mereka satu persatu dan mengajak dalam rangkaian agenda seni yang unik.
Cara unik yang digunakan melalui jalan-jalan ke destinasi wisata Batu Bolong dengan menggunakan Odong-odong. Ternyata, cara ini cukup menggugah karena terbangun kegembiraan para perupa. Mereka melukia di tempat sambil tamasya.
Sebanyak 24 pelukis bisa menyelesaikan karyanya di lokasi destinasi wisata itu. Namun, terdapat juga yang menyelesaikan karyanya di rumah. Karya itulah yang menghiasi ruang pameran Taman Budaya NTB.
Menurut Esty, upaya ini dilakukan karena para perupa terlalu lama vakum dari ajang pameran aehingga peluang untuk merefleksi karya tahun ini disambut dengan sangat antusias.
“Memang kami harus mencari langsung mereka namun ada di antaranya yang tidak bisa ikut karena sakit, ” katanya.
Salah seorang pelukis, Gusti Lanang Putra, menyambut baik upaya membangkitkan kembali gairah seni lukis di NTB. Karena itu ia berharap agar program dijalankan secara berkelanjutan.
Berkaitan dengan Pameran Lukisan bertajuk ” Mengurai Kebekuan “, dilakukan pula Live Painting melibatkan 24 pelukis. Dalam momen tersebut, seorang gadis cantik dihadirkan di atas kursi sebagai obyek lukisan. Namun, masing-masing pelukis melahirkan karya yang tidak sama dalam waktu sekira dua jam.
Momen yang disaksikan pula oleh Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, itu cukup menarik perhatian publik. Ajang ini merupakan salah satu inovasi dalam menggairahkan apresiasi seni rupa di NTB. ian
