Kisah Mawardi, Bekerja Sebagai Buruh Pengayak Pasir Sambil Gendong Anak Setelah Istri Meninggal

Selong, DS- Mawardi, salah satu buruh pengayak pasir di Kelurahan Suryawangi. Namun, Mawardi berbeda dengan buruh-buruh lainya. Ia terpaksa bekerja sambil menggendong buah hatinya yang berumur dua tahun lebih.

Mawardi terpaksa harus membawa putri satu-satunya itu bekerja lantaran sang istri beberapa bulan lalu telah meninggal dunia. Sehingga, saat ini ia harus mengurus anaknya sendiri.

“Baru beberapa bulan dia (istri mawardi-red) meninggal, saat itu umur anak saya masih berumur dua tahun. Sejak itulah saya bawa dia bekerja,”tutur Mawardi, Kamis (12/12).

Mawardi tidak ingin putrinya Zifani dititipkan ke orang lain saat dia pergi bekerja karena tidak ingin merepotkan. Terlebih keluarga dan kerabat sekitar rumahnya juga rata-rata sibuk bekerja. Sehingga ia memilih membawa buah hatinya bekerja sebagai buruh mengayak pasir.

Ia mengaku merasa lebih tenang jika anaknya dibawa bekerja. Karena ia bisa mengawasi langsung anaknya dan bisa dekat dengan putrinya itu. Hal inilah yang membuat Mawardi tidak pernah menitipkan putrinya ke orang lain. meskipun membawanya bekerja juga kurang baik menurutnya.

“Kalau dibawa kerja dia diam di samping saya sambil bermain pasir. Kalau nagis baru saya gendong sebentar untuk tenangin, kalau sudah diam baru lanjut lagi bekerja. Sebelum bekerja saya beliin jajan dulu biar tidak rewel. Kalau tidak belum ada pemasukan saya pinjam dulu di teman-teman,”katanya.

Musim hujan seperti ini pemasukan Mawardi cukup sepi. Tidak jarang dalam sehari ia hanya bisa membawa pulang hanya Rp 20 ribu. Bahkan tidak ada sama sekali. Mengingat ia hanya diupah Rp 20 ribu per satu dum truk untuk masing-masing buruh.

Jika cuaca lagi bagus sehari ia bisa mendapatkan upah berkisar antara Rp 60- Rp 100 ribu. Hanya ini satu-satunya pekerjaan yang bisa ia andalkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama putrinya Zifani.

“Saya pernah merantau ke Malaysia dan Kalimantan. Sepulang dari Kalimantan itulah ibunya Zilfani meninggal. Sehingga saya memutuskan untuk diam di rumah dan bekerja sebagai buruh pengayak pasir,” katanya.

Penghasilnya hanya cukup untuk memenuhinya kebutuhan berdua bersama anaknya. Tidak jarang ia harus berhutang ke teman kerjanya untuk sekedar uang jajan putrinya. Musim hujan diakui akan menjadi musim paling berat dijalani karena pemasukan yang sepi.

Namun, keterbatasan ekonomi tak membuat Mawardi mengeluh. Ia bertekad untuk selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya meskipun  tidak seberuntung orang lain. Ia yakin suatu hari nanti keadaannya pasti lebih baik.

“Mungkin sekarang keadaan saya begini, tapi mudah-mudahan nanti setelah anak saya besar akan berbeda. Jadi kita tidak boleh putus harap dengan rahmat Tuhan. Roda kehidupan pasti berputar,” tegasnya.

Wajah Mawardi tak sedikitpun menunjukkan rasa lelah dan putus asa. Meskipun berbagi persolan dihadapi, mulai dari ditinggal menikah sama istri pertama hingga ditinggal meninggal dunia oleh istri kedua. Dan, sekarang harus berjuang sendiri untuk merawat putrinya.li

Exit mobile version