KEKUASAAN; incumbent, lawan politik, rakyat dan pewarta. Sebuah unsur padu prosesi jelang suksesi. Parade kepalsuan kekuasaan dikurasi Teater Kamar Indonesia dalam pertunjukan “Hikayat Gajah Duduk” di Taman Budaya NTB sejak Sabtu (18/10) hingga Selasa (21/10)
Naskah karya Imtihan Taufan (alm) dalam pentas kali ini — untuk beberapa kalangan –, tidak hanya mengingatkan tentang retorika panggung dengan narasi menggigit melainkan juga sebagai ajang mereuni karya aktor yang juga sastrawan itu dalam perspektif eksperimentasi.
Ide kekuasaan yang cukup “langgeng” itu sekaligus menjadi tempat berhimpun sesama pengemas masa lalu dunia teater. Hebatnya, ketika semua sahabatnya menginjak usia senja, ternyata muncul peminat baru seni teater dari kalangan mahasiswa yang jadi fenomana cukup mengejutkan.
Empat hari seni pertunjukan itu digelar, ditarget 1000 penonton akan tersedot memadati arena tertutup Taman Budaya NTB. Gambaran yang semula nampak ironi di era digital tampak menjadi sebaliknya.
Ternyata seni teater menjadi pilihan yang cukup digemari anak muda, terbukti dari penuhnya gedung dan bertahannya penonton duduk di atas kursi walau pertunjukan sudah usai. Sesi berikutnya diisi dengan foto bersama para aktor yang membangun nuansa keharmonisan.
Ketua Teater Kamar Indonesia, Saepulloh Sapturi, mengemukakan iklim diburunya panggung teater oleh mahasiswa Unram. IKIP Mataram, Muhamadiyah dan kampus lain, tidak lepas pula dari meleknya mahasiswa terhadap dunia politik kekuasaan yang menjadi tema sentral dalam pentas tersebut.
“Ini fenomena karena semakin akrabnya mahasiswa dengan dunia politik,” kata Saepulloh. “Selama tiga hari pentas penonton sudah mencapai 750 orang. Belum terhitung besok (Selasa) yang tiketnya sudah habis, ” timpal Pimpro Hikayat Gajah Duduk, Naniek Mudayat.
Satu lembar tiket seharga Rp 25 ribu ludes terjual. Sedangkan baju kaos Hikayat Gajah Duduk pun dipakai penonton saat menyaksikan pertunjukan. Harga antara Rp 50 ribu hingga Rp 85 ribu, ternyata tidak seberapa dibandingkan energi Teater Kamar Indonesia yang terkuras. Dan, itulah yang membuat mereka rela merogoh saku dan merebut kenangan seni pertunjukan ini.
MODERN DALAM TRADISI
SENI pertunjukan Hikayat Gajah Duduk dikemas dengan nuansa semi tradisi. Pemanfaatan tetabuhan Rudat dalam setiap peralihan peristiwa menjadi energi unik seni peran dan cukup mengena.
Mengusung konsep eksperimentasi, Hikayat Gajah Duduk berkolaborasi apik dengan seni tradisi Kemidi Rudat Terengan, Tanjung Lombok Utara. Unsur-unsur seni tradisional diangkat ke atas panggung teater modern sebagai kolaborasi yang memperkaya ruang batin penikmat.
Seni Rudat yang “meriah” kadang membawa suasana konflik menjadi sesuatu yang menggembirakan. Terlebih sejumlah aktor mengenakan kostum seperti kaos kaki tinggi, selempang, tanda pangkat, dan topi, diperkuat permak wajah dengan impresi lucu yang menonjol.
Garapan musik pun didominasi irama Kemidi Rudat. Demikian pula unsur gerak rampak tari Rudat yang disertakan untuk membuka maupun menutup adegan. Eksperimentasi ini sekaligus bagian dari upaya melestarikan Kemidi Rudat sekaligus untuk menemukan bentuk baru agar seni tradisi bisa diterima oleh publik secara umum melalui panggung teater modern.
“Kami ingin mengangkat seni tradisi agar bisa diterima oleh khalayak umum dengan menemukan bentuk baru dari sebuah pertunjukan eksperimentasi,” kata Naniek.
Sutradara Sahirul Alim menyajikan suasana baru agar lebih dekat dengan masyarakat melalui eksplorasi teks sehingga sesuatu yang tertutup menjadi terbuka. Kepalsuan tersembunyi dalam peristiwa politik yang kadang disembunyikan menjadi peristiwa teatrikal yang menggoda.
Penonton tidak hanya dibuat serius menyimak setiap adegan, sekali waktu diajak “berdialog” dengan gerak dan bahasa hiburan yang menumbuhkan kepemilikan terhadap seni pertunjukan itu.
MENYIMAK RUANG KEPALSUAN YANG TERBUKA
Pertunjukann “Hikayat Gajah Duduk” menampilkan tokoh seperti Kalangkabo, Eksisa, sang istri, wartawan dan rakyat. Unsur-unsur dalam desain kekuasaan itu mengajak penonton menyelami kembali peristiwa yang biasa disaksikan dalam beberapa kali suksesi kepemimpinan. Tidak ada jarak antara politik kekuasaan dengan kepalsuan.
Hal yang menarik adalah bahwa panggung politik senantiasa diwarnai aksi pencitraan yang melibatkan para pewarta bayaran. Rekayasa pencitraan calon penguasa dikemas dalam janji politik hingga yang sifatnya sentuhan kebutuhan berupa santunan kemanusiaan.
“Kami akan berkunjung ke daerah oposisi yang menyimpan sakit hati, ” begitu kata pengikut setia Kalangkebo, incumbent yang ingin bertahan dalam ranah kekuasaan. “Kami akan bantu rakyat untuk tidur nyenyak sebelum mimpi indah. Janji kampanye kan memang gitu?” sebutnya lagi.
Setali tiga uang dengan lawan politiknya. Dokumentasi semua kegiatan calon penguasa dikatrol dengan nilai informasi yang menipu. Di sinilah kadang oknum jurnalis terlibat menjadi bagian dari rencana politik membohongi rakyat. Mereka diatur menyajikan gambar dari sudut pandang tertentu agar citra kemanusiaan menjadi konsumsi publik yang membekas.
“Karena, ini momen yang sakral supaya kelihatan sisi kemanusiaan,” kata pemburu kekuasaan yang terus dikuntit juru kamera. Tentu pula harus ada janji politik. “Politik itu bagaimana menyulap janji menjadi peluang.”
FENOMENA POLITIK
Naskah yang tergolong lama itu bertahan hingga sekarang tidak lepas dari fenomena politik yang tetap ramai mewarnai media sosial. Tokoh-tokoh layar sentuh yang kian berani mengungkap fakta di satu sisi, aktor kekuasaan yang menyembunyikan kepalsuan di sisi lain, adalah ruang kontradiksi yang melahirkan semangat konsumsi walau tidak untuk dibuktikan.
Silang sengkarut itulah yang menjadi panggung dalam sebuah sandiwara, bahkan ketika kawan kekuasaan menjadi lawan. Lahirlah sosok yang semula jongos kekuasaan, begitu terjadi transisi akan berkamuflase dalam produk yang mencoba menelanjangi mantan junjungannya.
Siapa pun yang menang dalam eskalasi politik itu akan tetap mengatasnamkan rakyat. Dan, yang kalah akan tersandera karena tidak lagi diinginkan oleh rakyat dan waktu. Sebuah dalil yang meniscaya sebagaimana meniscayanya para panjak dengan jiwa khianatnya agar tetap berada dalam ketiak kenyamanan.
“Saya hanya seorang staf tapi saya yang paling tahu bau busuknya, ” katanya.
Itulah kalimat akhir sekaligus awal para pengkhianat yang mencoba mencari selamat di depan rakyat.
TENTANG TEATER KAMAR
Pementasan Hikayat Gajah Duduk diperkuat aktor dan aktris Teater Kamar Indonesia di antaranya, Syahirul Alim yang juga sutradara, Murachiem, Kelly Jasmine Suntawe, Sumarta, Vino Sentanu, Zakiyudin dan didukung Nash Jauna.
Maestro Rudat, Zakaria dari Terengan Lombok Utara membawakan dengan apik lantunan syair bergaya Rudat yang diambil dari naskah Hikayat Gajah Duduk. Sedangkan Bagus Livianto, sahabat lama (alm) Imtihan Taufan, sebagai penata lampu kawakan, pun ikut turun gunung setelah cukup lama jeda di pencahayaan teater. Tampil pula penata artistik berbakat, Akmal dan penata musik, Badi Saputra.
Teater Kamar Indonesia sempat menampilkan lakon ini tahun 2006 lalu dan tergolong kelompok teater yang digandrungi penonton. Pada pertunjukan “Sandiwara Merah Jambu 1” tahun 2009, penonton membludak mencapai 1.200 orang sehingga memaksa Teater Kamar Indonesia pentas selama 6 hari. Pentas Hikayat Gajah Duduk tahun 2025, diperkirakan menyedot 1.000 penonton selama 4 hari pertunjukan. riyanto rabbah
