Seorang pemimpin harus mempunyai standar sikap dan perbuatan dan perkataan. Misalnya hari-hari terakhir Pak Prabowo banyak membuat pernyataan-pernyataan seperti ketika ada bencana datang melanda sumatera barat, Aceh dan Sumatera Utara. Pada saat itu banyak masyarakat mengkritisi adanya kondisi hutan yang telah berubah menjadi kebun sawit, sehingga rentan dihantam oleh bencana banjir dan tanah longsor. Respon Pak Prabowo waktu itu yang terkenal adalah; bahwa “sawit juga pohon”.
Padahal kondisi kebun sawit yang monokultur tidak dapat diharapkan menjadi pelindung lahan atas serangan derasnya hujan sewaktu-waktu. Sawit juga bukan pohon yang mempunyai akar tunggang yang dapat menjadi penahan tanah. Di sisi lain yang diperlukan adalah hutan alami yang dengan kondisi alaminya tersebut mampu menjalankan fungsinya sebagai penangkal banjir dan tanah longsor.
Ketika Pak Prabowo dihadapkan pada masalah Palestina-Israel maka responnya sangat berbeda dengan presiden-presiden Indonesia sebelumnya, di mana Pak Prabowo mengakomodir Israel sebagai bangsa yang harus disetarakan dengan Negara-bangsa lainnya. Pernyataannya yang terkenal yaitu: “Keamanan Israel harus dijaga untuk mencapai perdamaian dunia”. Padahal Israel dalam pandangan Presiden-presiden sebelumnya merupakan entitas penjajah yang seharusnya menghentikan penjajahannya di tanah Palestina. Sejarah dengan terang benderang mencatat bagaimana Palestina telah menjadi salah satu pendukung utama kemerdekaan Indonesia ketika awal-awal Indonesia mau menjadi sebuah Negara-bangsa. Atas dasar itulah para presiden di Indonesia menjadikan Palestina sebagai Negara-bangsa yang dipandang sebagai partner dan didukung untuk merdeka dari penjajahan Israel.
Pun baru-baru ini Pak Prabowo mengatakan bahwa orang desa tidak belanja memakai dollar. Hal ini responnya sebagai presiden menghadapi inflasi rupiah terhadap dollar yang sudah berada di level merah yaitu Rp. 17. 500-an. Sebagai tanggapan masyarakat atas pernyataan ini meda social ramai mengkritisi baik dengan cara prontal, lelucon sampai pada menyindir dengan halus. Pada kenyataannya bahwa pernyataan yang mengatakan rupiah dengan harga Rp. 17.500,an dalam satu dollar tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Hubungannya sangat erat, karena naiknya harga dollar terhadap mata uang rupiah berdampak pada semakin mahalnya harga-harga yang harus di bayarkan.
Berkaca dari 3 pernyataan presiden terdahulu, seolah-olah komunikasi nya so simple. Persoalan-persoalan kompleks dan rumit dijawab dengan seadanya. Padahal diperlukan cara-cara tidak sederhana untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Mendengar tanggapan-tanggapan Pak Prabowo, masyarakat banyak yang tidak habis pikir. Masyarakat seperti dipertontonkan pada dialektika seadanya saja yang memberikan sinyal kurang serius dari seorang presiden untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan kompleks.
Menghadapi pernyataan-pernyataan Pak Presiden Prabowo seperti itu, masyarakat Indonesia dibuat “jengkel” sendiri. Seakan mereka tidak percaya bahwa Presiden membuat pernyataan-pernyataan simplisiti. Berbagai tanggapan “kejengkelan” masyarakat banyak terekam dalam media social, di antaranya ada netizen yang membuat status yang cukup mewakili isi hati masyarakat Indonesia. “Dulu punya pemimpin yang mengubur mimpinya buat rakyat, sekaarang dapat pemimpin yang membiarkan rakyat menggali kuburnya sediri demi mimpi pemimpin”.
Sedangkan sindiran terkait masyarakat yang tidak memakai dollar seiring naiknya harga dollar terhadap rupiah sudah seperti tidak dapat dihitung. Banyak sekali netizen menanggapi dengan berbagai satire. Pernyataan Pak Presiden bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dollar merupakan pernyataan “konyol”, sehingga menjadi bulan-bulanan bagi masyarakat membully balik.
Lalu pertanyaannya bagaimana seorang Presiden hendak menjadi kunci transformasi pembangunan jikalau wibawanya menjadi bulan-bulanan rakyatnya akibat pernyataan-pernyataan tidak berbobot? Jawaban pertanyaan terdahulu selanjutnya menjadi uraian tulisan artikel ini. Dari uraian jawaban diharapkan pembaca dapat mengambil makna untuk kemudian dapat menjadi ilmu pengetahuan atau pun menjadi dasar sikap atas kondisi republic Indonesia.
Teori Kewibawaan
Teori Kewibawaan dari Max Weber mengatakan bahwa pemimpin yang mempunyai kharisma akan dianggap mempunyai kualitas luar biasa, suci atau patriotik. Oleh karenanya rakyat memberikannya loyalitas emosional yang kuat. Kosekuensi dari adanya loyalitas yang kuat maka rakyat siap menjadi “pelindung” sang pemimpin. Jangankan musuh dari luar, gangguan kepemimpinan yang datang dari sekeliling orang dalam pun akan berhadapan dengan kekuatan rakyat sebagai perisai setia sang pemimpin.
Pada konteks kepemimpinan Pak Prabowo dengan komentar-komentar simple nya atas persoalan-persoalan komplek di satu sisi dan sangat krusial di sisi lain, bagaimana mungkin rakyatnya bisa merasakan ketersambungan emosional dengan sang pemimpin. Malah yang ada “pembullyan” dan cemooh dari rakyat. Semua bisa menilainya. Bagaimana pun juga hari ini masyarakat hidup di era banjir bandang informasi yang hanya dengan satu klik pada sebuah aplikasi medsos maka dapat disaksikan alogaritma masyarakat yang menyindir berbagai pernyataan-pernyataan Pak Presiden yang dinilainya terlalu “kekanakan”.
Pada kondisi demikian maka yang diharapkan dapat “melindungi” Pak Presiden adalah koalisi yang telah dibentuk berdasarkan solidaritas kepentingan. Di luar itu tidak ada harapan besar, karena rakyat pada umumnya sudah mengetahui standar pernyataan-pernyataan presiden yang hanya baik buat diri dan kelompok kepentingan beserta anasir-anasirnya. Padahal membangun bangsa merupakan tujuan sebuah pemerintahan yang didapatkan secara “demokratis”. Tidak sekedar membangun kelompok-kelompok pendukungnya saja melainkan seluruh komponen bangsa selama itu masih menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
