Pantai, Sampah dan Secangkit Kopi

Catatan Riyanto Rabbah

Bagaimana perasaanmu ketika secangkir kopi berteman alam pantai dan tumpukan sampah?

Bola mata setiap nelayan di Tanjung Bias sampai Pantai Tanjung Karang mungkin menyaksikan itu dengan perasaan biasa saja.

Mereka tetap sibuk dengan urusannya, memancing atau menjala ikan. Warga sekitar lebih sibuk memandangi aktifitas nelayan ketimbang menyaksikan suasana kotor yang berjejal di sekitarnya.

Telapak kaki para nelayan berkulit legam itu menitipkan jejak di atas pasir bersampah atau sampah berpasir, sambil terus mendorong perahu ke tepi. Para ibu lebih mengharap hasil tangkapan suaminya ketimbang memerhatikan sampah yang diinjak di depan matanya.

Mereka kemudian menjajakan cumi berbobot satu kilogram seharga seratus ribuan dengan harapan berbeda dibandingkan pengunjung yang kurang bersemangat menyeruput secangkir kopi.

Ibu nelayan mungkin membayangkan pagi ini dapur menyala dengan persediaan beras untuk beberapa hari. Namun, para pengunjung justru ingin menemukan ketenangan batinnya dengan menyaksikan keindahan panorama alam.

Pantai bukan hal biasa bagi masyarakat umumnya melainkan pemandangan yang luar biasa. Paduan antara langit, laut lepas, ombak dan suara yang ditimbulkannya akan membongkar memori keindahan. Fase pagi dan sore pun menyajikan pemandangan berbeda yang membuat pantai menempati posisi istimewa sebagai lokasi tujuan di akhir kepenatan.

Karena itulah pantai sering diburu para seniman seperti perupa dan sastrawan sebagai sumber inspirasi. Tidak sedikit puisi dilahirkan dari pantai, walau bukan sebatas untuk mencari kesenangan, demikian halnya karya lukisan.

Khairil Anwar misalnya menulis “Senja di Pelabuhan Kecil” untuk melukiskan kegundahan hatinya. Atau “Kabar dari Laut” yang juga tidak lepas dari pantai. Para pelukis menuju pantai walau harus melewati jalan terjal menantang. Banyak yang lain menjadikan pantai sebagai sumber inspirasi dan tempat yang nyaman berkontemplasi dalam kehidupannya.

Dalam dunia pariwisata pantai menjadi destinasi unggulan karena keindahannya. Sebaliknya tidak ada satupun yang menjadikan sampah sebagai bagian dari keindahan untuk berwisata.

Sayangnya, pantai dengan setumpuk sampah masih menjadi momok yang belum tertanggulangi, termasuk di ibukota provinsi seperti Kota Mataram. Mereka yang berada dalam lingkaran pantai seperti nelayan, pengusaha kafe, belum memiliki inisiatif mandiri melakukan pengendalian dan penanggulangan.

Sementara itu Zero Waste sejak digulirkan Zul Rohmi selaku gubernur dan wakil gubernur NTB beberapa waktu lalu tinggal jargon dan hafalan semata, tidak membumi sebagai pegangan yang diterapkan di masyarakat.

Kawasan wisata Senggigi menghasilkan 1,4 ton sampah sehari. GiliTrawangan bahkan bisa mencapai 16 ton per hari.

Sampah plastik, reranting dan lainnya, tetap menjadi noda di pantai, pegunungan dan di mana pun, ketika solusi sampah baru sampai pada persoalan mencari tempat pembuangan akhir, belum pada konteks bahwa sampah adalah sahabat yang bisa dikelola.

Apakah ada mesin pengolah sampah organik? Jawabannya ada. Adakah mesin pengolah sampah non organik? Jawabannya juga ada. Bahkan mesin penghancur sampah pun ada.

Itu artinya sampah bukanlah akhir melainkan memiliki siklus lanjutan yang bermanfaat bahkan secara ekonomi. Namun, ada kecenderungan siklus itu diputus dan menjadikan sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Pantai yang bersih dengan pengelolaan sampah yang baik memberi dampak besar bagi lingkungan untuk berkembang. Disamping itu, pun merupakan daya tarik wisata karena menjadi bagian dari keindahan menuju pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Tentu saja semua cita-cita itu jika terwujud akan membuat kopi hangat semakin nikmat di tengah debur ombak yang terus menyapa. riyanto rabbah

Exit mobile version